Diterpa Isu Covid-19, Pengungsi Merapi Tinggalkan Barak

Tenda yang didirikan oleh warga Kalitengah Lor Glagaharjo, Cangkringan, Sleman di dekat lapangan balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (20/11/2020)-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
15 Desember 2020 16:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sebagian pengungsi yang ada di barak pengungsian balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman memilih untuk kembali ke rumahnya yang berada di Kalitengah Lor Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Isu Covid-19 menjadi faktor utama kembalinya sebagian pengungsi ke rumah mereka.

Kasi Pemerintahan Desa Glagaharjo Heri Prasetya mengatakan jika sebagian pengungsi memang kembali ke rumah sejak dua hari yang lalu sejak Minggu (13/12/2020). Pengungsi yang kembali ke rumahnya adalah didominasi oleh pengungsi orang tua yang masih memiliki balita.

"Setelah pengungsi pulang, kami langsung melakukan koordinasi dengan relawan dan juga Pak Dukuh. Penyebab pulangnya pengungsi adalah perkembangan informasi Covid-19. Pengungsi menerima informasi jika Covid-19 sudah merebak sampai di Glagaharjo, padahal itu hanya isu," ujar Heri Prasetya saat diwawancarai di balai desa Glagaharjo, Selasa (15/12/2020).

Upaya sosialisasi kemudian dilakukan kepada warga. Untungnya, warga secara sukarela berkehendak untuk kembali ke barak pengungsian.

"Alhamdulillah sejak kemarin Senin (14/12/2020) pagi pengungsi mau kembali ke barak pengungsian. Kami berkoordinasi dengan kepala Puskesmas Cangkringan (Plt Kepala Puskesmas Cangkringan, Dyah Arum Retnaningtyas). Kepala Puskesmas Cangkringan menyatakan jika wilayah Glagaharjo masih aman dari Covid-19," jelasnya.
Isu penyebaran Covid-19 beredar ke wilayah Glagaharjo tiga hari yang lalu, yakni Sabtu (12/12). Alhasil, sebagian pengungsi yakni khususnya pengungsi yang memiliki balita memilih kembali ke rumahnya yang berada di Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman.

"Kami sudah melakukan koordinasi dengan Dinkes Kabupaten Sleman maupun Puskesmas Cangkringan. Isu Covid-19 di wilayah Glagaharjo itu tidak ada. Saat saya cek pada Minggu (13/12/2020), pengungsi hanya tinggal dua orang. Pengungsi tersebut yang berada di ruang khusus pengungsi yang memiliki balita," jelasnya.

Rasa jenuh juga diakui oleh Heri dirasakan oleh pengungsi Gunung Merapi yang berada di barak pengungsian balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Terlebih, pengungsi lansia yang merasa kangen terhadap rumah mereka. Aktivitas yang biasanya dilakukan di rumah tidak bisa dilakukan oleh pengungsi. Sehingga, mereka merasa jenuh.

"Memang dilema, setiap malam kami sambangi pengungsi lansia. Mereka senang jika diajak berkomunikasi. Kami sebisa mungkin membuat pengungsi itu nyaman. Pasalnya, belum ada instruksi dari pemerintah bagi pengungsi untuk kembali ke rumah," jelasnya.

Salah satu pengungsi barak pengungsian balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Trisno Kariyo, 80, warga Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, mengatakan jika ia mencoba untuk beradaptasi dengan situasi di barak pengungsian. Walaupun, ia juga merasa jenuh karena sudah hampir lebih satu bulan tinggal di barak pengungsian.

"Saya manut anjuran pemerintah untuk mengungsi di barak pengungsian. Merapi kan statusnya juga masih siaga level tiga. Saya sempat kembali ke rumah buat manen jagung. Memang kangen rumah, tapi saya ikut anjuran pemerintah," terangnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo menegaskan jika di wilayah Glagaharjo belum ditemukan kasus penyebaran Covid-19. Artinya, wilayah Glagaharjo masih masuk kategori wilayah hijau Covid-19. "Iya, benar (belum ada penyebaran Covid-19 di wilayah Glagaharjo)," pungkas Joko.