Setelah 10 Tahun Besanan Nyamuk, Profesor UGM Diakui Dunia

Guru Besar FKKMK UGM, Prof. Adi Utarini - Instagram/Adi Utarini
30 Desember 2020 09:07 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Di kalangan akademisi dan peneliti, Adi Utarini dikenal sebagai Profesor Nyamuk. Berkat dedikasi dan risetnya untuk mengendalikan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang selama ini memakan banyak korban, ia masuk dalam 10 tokoh dunia versi Nature, jurnal ilmiah terkemuka dunia yang berbasis di Inggris. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Lajeng Padmaratri.

Baru-baru ini, Indonesia berbangga. Salah satu ilmuwan dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Adi Utarini masuk dalam jajaran 10 tokoh dunia yang menentukan perkembangan sains pada 2020 menurut Nature.

Dalam daftar yang dirilis Nature pada 15 Desember lalu, Prof. Uut, sapaan akrabnya, diapresiasi berkat penelitiannya yang berhasil menurunkan 77% kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Jogja.  Oleh Nature, Uut bahkan disebut sebagai Komandan Nyamuk. Ia memimpin sejumlah ahli lainnya, mulai dari ahli entomologi, biologi molekuler, dan epidemiologi untuk meneliti upaya menurunkan kasus DBD yang dimulai di DIY sejak 2011.

"Ini keberhasilan tim. Saya bersyukur sekali punya tim yang hebat, yang berkomitmen dan berdedikasi luar biasa untuk riset ini. 10 tahun perjalanan ini banyak tantangan yang kami hadapi. Ini membuat tim makin tangguh," kata Uut belum lama ini.

Uut adalah Kepala Proyek (Project Leader) World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta. Selama bertahun-tahun, ia memimpin program yang fokus memerangi penyakit demam berdarah ini. Penelitian ini merupakan kolaborasi antara WMP Yogyakarta, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, dan didukung pendanaan dari Yayasan Tahija.

Agustus lalu, tim Uut melaporkan pencapaian yang membuka jalan terang untuk mengalahkan DBD. Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED) merilis hasil penelitian yang menunjukkan penurunan kasus DBD sebanyak 77% di area intervensi dibandingkan dengan area pembanding di Kota Jogja.

"Itulah yang sangat sukses tentang tim yang dipimpin Adi,” kata Oliver Brady, seorang pemodel virus yang mempelajari demam berdarah di London School of Hygiene & Tropical Medicine, dikutip dari Nature.

Berkat pencapaian ini, Guru Besar FKKMK UGM itu bersanding dengan sejumlah tokoh berpengaruh lain yang saat ini fokus menumpas Covid-19, antara lain Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, dan ilmuwan vaksin dari Pfizer Khatrin Jansen.

Uut berkisah yang dilakukannya selama ini adalah intervensi lingkungan yang sering disebut sebagai program 'besanan nyamuk'. Ia menitipkan telur nyamuk Aedes aegypti yang telah disuntik dengan bakteri Wolbachia ke sejumlah komunitas masyarakat di Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Jogja.

Bakteri Wolbachia pada nyamuk itu berkompetisi dengan virus DBD di dalam tubuh nyamuk dan bisa menekan virus DBD, sehingga ketika nyamuk itu menggigit manusia, virus DBD-nya tidak ikut ditularkan. Dampaknya, ketika semua nyamuk Aedes aegypti di suatu wilayah sudah mengandung Wolbachia, ketika nyamuk-nyamuk itu menggigit manusia, virus DBD-nya tidak akan menjangkiti manusia.

"Impact-nya kasus DBD bisa menurun 77% dibandingkan wilayah yang tidak menggunakan nyamuk Wolbachia ini," kata Uut.

Di alam, nyamuk tersebut saling berkembang biak, sehingga bakteri Wolbachia bisa menyebar secara alami melalui proses kawin dan besanan nyamuk. "Secara lingkungan intervensi ini sangat sustainable [berkelanjutan], karena kita tidak perlu melakukan terus-menerus. Sekali kurun waktu, setelah Wolbachia di atas 60%, kita setop pelepasannya dan secara alami akan ber-Wolbachia semua," ujarnya.

Meski praktik intervensi Wolbachia ini baru berhasil pertama kali di Indonesia, Uut menegaskan penelitian di laboratorium ini sudah dimulai berkat bermitra dengan Monash University di Australia. Namun, menurutnya DBD di Australia tidak begitu banyak kasusnya. Di Indonesia sendiri, ia butuh 10 tahun lamanya untuk mencapai keberhasilan ini.

Kini, penelitian AWED itu sebenarnya sudah selesai. Namun, Uut mengakui dirinya terus-menerus mendapatkan permohonan apakah riset ini bisa diimplementasikan ke daerah lain. Ia pun berharap teknologi ini bisa diperluas ke wilayah lain.

"Model riset harus diubah menjadi lebih implementatif di kota yang lain. Kalau modelnya tetap pakai model riset, itu kan biaya terlalu tinggi dan standarnya tinggi, padahal sebetulnya bisa lebih melibatkan masyarakat. Kami berharap stakeholder terutama Kemenkes, Kemenristek, dan Kemendikbud untuk membuat model yang lebih implementatif," urainya.

Apalagi, menurutnya saat ini kapasitas telur nyamuk yang dikembangkan baru cukup untuk beberapa wilayah di DIY saja. Jika metode ini akan diterapkan di skala nasional, butuh kapasitas yang lebih besar dan tim mitra yang bisa mengimplementasi.

Selain itu, Uut juga berharap bisa mendapatkan mitra pendanaan terlebih dari kalangan internasional. Sebab, selama ini penyakit DBD belum dianggap sebagai isu yang diperhatikan dibandingkan HIV dan TBC. Selama ini, yang mendanai mereka hanya dari Yayasan Tahija. Jika diperluas, butuh pendanaan lain.

"Kami berharap ini kemudian jadi strategi nasional DBD yang harapannya bisa melengkapi dan memperkaya program Kemenkes di pemerintahan," kata dia.