Gelombang Pengungsi Merapi Berdatangan ke Balai Desa

rnPemeriksaan kesehatan para pengungsi Merapi di barak pengungsian Glagaharjo, Jumat (18/12 - 2020)/Ist
06 Januari 2021 17:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Gelombang pengungsi di barak pengungsian Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas Gunung Merapi. Berdasarkan data dari pemerintah desa Glagaharjo, pengungsi yang berada di barak pengungsian per Selasa (5/1/2020) malam sebanyak 328 orang.

Lurah Glagaharjo Suroto mengatakan penambahan jumlah pengungsi di barak pengungsian Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, tidak hanya dari kelompok rentan yakni lansia, anak-anak, dan ibu hamil. Akan tetapi, warga masyarakat usia produktif yang kebetulan tidak memiliki fasilitas kendaraan bermotor.

"Artinya mereka (warga) yang memang tidak punya fasilitas sepeda motor atau mobil juga sudah ikut mengungsi. Jadi, warga dengan kondisi Merapi saat ini kami berikan fasilitas mobil antar jemput untuk warga. Jika kondisi pagi dan siang kan warga memang naik ya, nah ketika malam banyak warga yang sudah mengungsi di barak pengungsian. Warga mau turun sekarang, sebab sebelumnya tidak mau," ujar Suroto saat diwawancarai di balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Rabu, (6/1/2021).

Berdasarkan catatan dari pemerintah kelurahan Glagaharjo, angka pengungsi di barak pengungsian Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, rata-rata berada di angka 200-an pengungsi. Akan tetapi, setelah Gunung Merapi mengalami peningkatan aktivitas sejak 2 Januari 2020, jumlah pengungsi meningkat secara signifikan.

"Sampai tadi malam jumlah pengungsi kurang lebih 328 jiwa. Dari sebelumnya itu jauh sekali hanya 200 an sekian. Sekarang 300 an lebih. Artinya, pemerintah desa tidak mau ambil resiko. Kita amankan warga. Keselamatan warga adalah kunci utama yang selama ini kita hadapi kaitannya dengan Merapi," sambung Suroto.

Lebih lanjut, dari sekitar 530 warga Kalitengah Lor, 328 orang sudah mulai mengungsi di barak pengungsian balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, pada Selasa (5/1/2021) malam. Dari 530 orang, 150 diantaranya merupakan anak muda usia produktif. Hal tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah desa Glagaharjo. Artinya, sebagian besar warga sudah mulai mengungsi di barak pengungsian. Walaupun, ketika siang hari warga kembali ke rumah mereka yang ada di atas.

"Saya salut dengan kesadaran warga masyarakat dengan jumlah kurang lebih 530 jiwa di Kalitengah Lor sudah mau tidur pada malam hari di barak pengungsian sekitar, jumlahnya sekitar 328 an itu sudah bagus. Memang tidak mungkin dikosongkan juga dengan kondisi semacam ini. Saya juga berharap jangan dikosongkan, tapi kalau memang ada orang di situ ya benar-benar anak muda yang setiap saat kalau misalnya Merapi bergejolak ada erupsi siap lari. Masyarakat di Glagaharjo kan juga berada di perbatasan saya tidak ingin ada kaitannya dengan masalah kamtibmas," papar Suroto

BACA JUGA: Bukan Batuk & Pilek, Ini Gejala Covid-19 Paling Umum pada Anak-Anak

Perekayasa Ahli Madya BPPTKG Yogyakarta, Dewi Sri Suyadi sebelumnya mengatakan jika fenomena titik api diam yang mulai teramati di Gunung Merapi merupakan pertanda awal terkait dengan erupsi. Titik api diam menjadi parameter yang signifikan selain guguran yang selama ini terjadi di Gunung Merapi.

"Mudah-mudahan ini menjadi pertanda awal ya, tidak hanya sekedar guguran menuju ke aarah erupsi. Waktunya kapan kita belum tahu, apakah erupsinya ada di situ (sisi barat daya bekas lava 1997) belum tentu," ujar Dewi pasca memberikan sosialisasi kepada warga Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman dan Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah terkait perkembangan aktivitas Gunung Merapi, Selasa (5/1/2021) kemarin.