Perpanjangan PTKM Bikin Hotel dan Restoran di Bantul Mati Suri

Ilustrasi - Freepik
27 Januari 2021 15:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Perpanjangan masa Pengetatan Secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) membuat sejumlah pengelola hotel dan restoran kelimpungan. Selama PTKM tahap pertama saja, kondisi hotel dan restoran di Bumi Projotamansari sudah mati suri karena tidak ada pengunjung.

“Kondisinya semakin parah, kami sudah mati suri,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul, Nurman Asmuni, Rabu (27/1/2021).

BACA JUGA: Geger, Bangkai Lumba-Lumba Ditemukan Membusuk di Pantai Trisik Kulonprogo

Nurman mengatakan ada 35 anggota PHRI yang aktif dan 75-an anggota PHRI pasif. Hampir semuanya mengandalkan rombongan wisatawan. Ketika ada kebijakan PTKM, kata dia, otomatis tidak ada pengunjung. Dia mencontohkan di Restoran Numani Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul sudah tidak ada pengunjung sama sekali.

Manajemen Numani terpaksa merumahkan hampir semua dari total 52 karyawan. Sebanyak 12 karyawan yang masuk juga lebih banyak menganggur sehingga yang masuk hanya enam orang.

Para pedagang asongan yang selama ini menggantungkan ekonominya dari pengunjung Numani juga terimbas. Bahkan dia menyebut dalam sepekan ini ada empat pedagang asongan yang meninggal dunia. “Mungkin stres karena dagangan tidak laku walau pun sudah berkeliling kemana-mana,” kata Nurman.

Dia berharap pemerintah memikirkan kembali ekonomi masyarakat. Sebab berdasarkan hasil survei yang disampaikan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, pemberlakukan PTKM hanya mampu menurunkan angka penularan Covid-19 sekitar 5%.

BACA JUGA: Luncuran Awan Panas Merapi ke Hulu Krasak dan Boyong

Saat ini pemerintah kembali memperpanjang masa PTKM dan hanya mengubah jam tutup operasional dari pukul 19.00 WIB menjadi pukul 20.00 WIB. Nurman memprediksi perpanjangan PTKM juga tidak akan banyak mengurangi jumlah penularan Covid-19 dan justru memperparah kondisi karena ekonomi juga anjlok.

“Seharusnya cukup dengan disiplin protokol kesehatan, tidak perlu ada pembatasan,” ucap Numani. 

Wakil Manajer Restoran Numani, Rohani mengatakan penurunan omzet selama PTKM hampir mencapai 100%, “Karena tidak ada tamu sama sekali,” ucap dia.

Dia mengaku biaya operasional sudah tidak ada lagi. “Mudah-mudahan pemerintah mau mengubah aturan dengan memperketat protokol kesehatan saja tanpa adanya tes antigen buat wisata dan PTKM,” kata Rohani

Tidak hanya restoran dan hotel di bawah PHRI yang mati suri. Sejumlah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lainnya juga terdampak. Salah satunya para pedagang di sekitar objek wsiata.

Pengurus Pokdarwis Pantai Goa Cemara, Yatiman, mengatakan dari ratusan pedagang yang ada di Goa Cemara, hanya empat warung yang buka. “Hamapir semua tutup,” kata dia.

Menurut Yatiman, kondisi Goa Cemara sepi sejak pandemi Covid-19 dan diperparah dengan adanya kebijakan PTKM. Nyaris tidak ada pengunjung sama sekali ke pantai yang ada di barat pantai Samas tersebut.