Kematian Pasien Covid-19 di Sleman Capai 156 Kasus, Ini Datanya

Foto ilustrasi pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni membungkusnya menggunakan plastik. - Ist/FOTO ANTARA
27 Januari 2021 06:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Meskipun tergolong tinggi, nilai CFR (Case Fatality Rate) untuk Covid-19 di Sleman masih di bawah angka kematian rata-rata nasional. Jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia mencapai 156 kasus dari total 7.631 kasus positif.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengakui selama Januari ini kematian pasien akibat Covid-19 memang sangat tinggi. Kondisi tersebut terjadi seiring dengan adanya peningkatan jumlah kasus pasien yang terkonfirmasi Covid-19 yang juga tinggi.

BACA JUGA : Kematian Akibat Covid-19 di Jogja Terus Meningkat

"Selama awal Januari hingga 25 Januari, kami mencatat sudah ada kematian sejumlah 64 kasus konfirm positif Covid-19. Padahal selama Desember hanya tercatat 48 kematian. Dari Maret 2020 hingga November 2020, atau delapan bulan jumlah kematian hanya tercatat 44 kasus," kata Joko saat dikonfirmasi Harianjogja.com, Selasa (26/1/2021).

Menurutnya rata-rata tingkat kematian untuk pasien Covid-19 di Sleman dibandingkan nasional masih rendah. "Sampai kemarin sore, total pasien Covid-19 yang meninggal ada 156 kasus dari total kasus 7.631 sehingga nilai CFR nya 2 persen. Masih di bawah angka kematian nasional [3.4 %], tapi belakangan naik terus," kata Joko.

Menurut Joko, banyaknya kasus kematian di Sleman terjadi karena mayoritas pasien memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Selain itu, lanjut dia, penanganan Covid-19 juga perlu mencermati keterbatasan ruang isolasi khusus pasien kritikal Covid-19.

BACA JUGA : Kasus Kematian Terpapar Covid-19 di Gunungkidul

"Faktor keterbatasan ruang khusus pasien yang kritikal itu yang perlu mendapat perhatian," katanya.

Joko mengatakan hampir semua RS intermediate di Sleman menambah jumlah kapasitas bed khusus pasien Covid-19. Jika sebelumnya hanya 132 bed di rumah sakit intermediate, maka saat ini jumlahnya menjadi 290 bed atau bertambah 158 bed. Meski belum memenuhi ketentuan kapasitas 40% tempat tidur khusus pasien Covid-19, kata Joko, namun penambahan kapasitas jumlah bed tersebut patut diapresiasi.

"Kalau sebelumnya baik di RS rujukan maupun intermediate ada 249 bed, saat ini menjadi 490 bed non kritikal. Untuk bed critical juga bertambah dari 22 menjadi 32 bed, termasuk sarana yang ada di RSUP Sardjito," kata Joko.