Angka Kemiskinan Gunungkidul Naik

Ilustrasi - Freepik
29 Januari 2021 08:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Angka kemiskinan Gunungkidul pada 2020 naik dari 16,61% menjadi 17,07%. Pandemi Covid-19 diduga kuat menjadi penyebab bertambahnya keluarga miskin di Bumi Handayani.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul, Sri Suhartanto mengatakan sudah menerima data dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait dengan angka kemiskinan pada 2020.

Jumlah itu, kata dia, naik sekitar 0,46% dibandingkan dengan angka kemiskinan pada 2019 sebesar 16,61%.

“Memang ada pertambahan jumlah keluarga miskin, hal tersebut dapat diihat dari data BPS tentang angka kemiskinan pada 2020. Dibandingkan dengan angka di tahun sebelumnya memang ada kenaikan,” katanya kepada wartawan, Kamis (28/1/2021).

Sri Suhartanto mengatakan, naiknya angka kemiskinan di Gunungkidul tidak lepas adanya pandemi Covid-19. Pada saat disurvei menunjukan indikator yang penurunan pendapatan sehingga berpengaruh terhadap hasil survei. “Survei dilakukan pada saat masa pandemi Covid-1. Jadi, ikut berpengaruh terhadap naiknya angka kemiskinan di Gunungkidul,” katanya.

Menurut dia, Pemkab Gunungkidul tetap berkomitmen untuk menurunkan angka kemiskinan. Sebagai contoh beberapa program telah disiapkan tahun ini. Salah satunya dengan pemenuhan layanan kesehatan melalui pembiayaan BPJS Kesehatan untuk keluarga miskin. Selain itu, ada juga program perbaikan rumah tak layak huni pencegahan stunting, setop buang air besar sembarangan dengan program jamban sehat, pembangunan pendidikan hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat di berbagai sektor.

“Untuk upaya pengentasan kemiskinan juga ada program dari Pemerintah Pusat berupa Program Keluarga Harapan, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat hingga bantuan sosial lainnya tetap dilanjutkan ke masyarakat,” katanya.

Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) sekaligus Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi. Menurut dia, program penurunan angka kemiskinan meleset dari target karena awalnya ingin menurunkan menjadi 15%.

Namun demikian, adanya pandemi Covid-19 membuat rencana yang telah disusun tidak berjalan dengan baik hingga akhirnya berpengaruh terhadap naiknya angka kemiskinan.

Meski ada kenaikan angka kemiskinan, Immawan mengaku masih bisa bersyukur karena peningkatan di Gunungkidul termasuk yang terendah di DIY. “Kami [Kabupaten Gunungkidul] kurang dari 0,5 persen [kenaikan angka kemiskinannnya]. Sedangkan yang lain ada yang satu persen,” katanya.

Meski ada peningkatan angka kemiskinan di akhir masa jabatan, Immawan mengakui bahwa tidak ada yang gagal dalam upaya pengentasan. Menurut dia, selama menjabat bersama dengan Bupati Gunungkidul, Badingah angka kemiskinan sudah banyak berkurang karena dulu sempat di atas 20%.

“Kami tidak gagal. Memang di tahun akhir ada peningkatan, tapi itu disebabkan karena bencana non alam dikarenakan pandemi Covid-19 sehingga berpengaruh terhadap jumlah keluarga miskin,” katanya.