IMB Terbit Setelah Perjalanan Panjang, GPdI Immanuel Sedayu Dibangun

Bupati Bantul Suharsono (kedua dari kanan) saat mengawali pembangunan secara simbolis gedung GPdI Immnuel Sedayu di Dusun Jurug RT 47, Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu, Bantul, Kamis (11/2/2021). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
12 Februari 2021 12:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Bupati Bantul Suharsono mengawali peletakan batu pertama pembangunan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel Sedayu di Dusun Jurug RT 47, Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu, Bantul, Kamis (11/2/2021). GPdI Immanuel Sedayu mulai dibangun setelah Suharsono menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) gereja tersebut.

“Setelah melalui pergumulan panjang dan kemurahan Tuhan Yang Maha Esa, hari ini kita akan bersama sama melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Immanuel Sedayu,” kata Suharsono.

BACA JUGA: Empat Pedagang Positif Covid-19, Dua Pasar di Bantul Ditutup Sepekan

GPdI Sedayu dibangun setelah melalui proses yang panjang. GPdI Sedayu awalnya menempati rumah pribadi Pendeta Yunus Tigor Sitorus di Dusun Bandut Lor, Desa Argorejo, Sedayu. Bahkan rumah ibadah tersebut sudah mengantongi IMB pada Januari 2019. Namun belakangan mendapat penolakan warga sekitar dengan alasan tidak pernah dimintai persetujuan dan akhirnya disepakati pindah ke Dusun Jurug, Desa Argosari, kecamatan setempat yang berjarak sekitar tiga kilometer.

Suharsono menyambut baik rencana pembangunan gedung GPdI Immanuel Sedayu  dan berharap segala proses pembangunan nantinya akan dapat berjalan dengan sukses dan lancar sesuai dengan harapan jemaat untuk mendapatkan gedung gereja yang representatif sebagai tempat ibadah dan kegiatan religius lainnya.

Menurut dia, kondisi saat ini gereja mimiliki peran yang strategis untuk membekali generasi muda dalam rangka menyiapkan dan membangun masyarakat serta menebarkan nilai nilai optimisme dan toleransi.

Suharsono berharap pembangunan GPdI Sedayu tersebut nantinya akan semakin dapat memantapkan keimanan dalam mendukung pemerintah menciptakan kerukunan  umat dan memperkuat rasa toleransi agar roda pembangunan disegala aspek dapat berjalan sebagaimana harapan semua.

Dalam kesempatan tersebut, Suharsono  juga mengajak kepada seluruh masyarakat khususnya jemaat Immanuel Sedayu agar dapat selalu menjaga toleransi dalam kehidupan bermasyarakat dalam membangun relasi dengan pemeluk agama lain.

BACA JUGA: Hari Raya Imlek, Ibadah di Kelenteng Gondomanan Sepi karena Dibatasi

“Kita hidup dalam masyarakat yang mejemuk sehingga toleransi menjadi kunci utama untuk membangun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan pancasila,” ujar Suharsono.

Pendeta Yunus Tigor Sitorus menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang sudah membantu memperjuangkan terwujudknya gedung GPdI Sedayu, “Apa yang sedang kami perjuangkan selama ini akhirnya dapat terwujud. Akhirnya kami memperoleh IMB Gereja tertanggal 9 Februari 2021,” kata Sitorus. Bahkan IMB tersebut terbit lebih cepat atau hanya 10 hari sejak verifikasi lapangan.

Kepala Dusun Jurug Sukiman menjamin keamanan dan kenyamanan ibadah jemaat GPdI Immanuel Sedayu di wilayahnya. Salah satu dukungan yang diberikan adalah persetujuan yang melebihi kuota dari yang tadinya hanya 60 orang namun syarat dukungan sampai 102 orang.

Dia mengatakan di wilayahnya budaya toleransi sudah terjalin sejak lama. Dia mencontohkan di desanya terdiri dari berbagai keyakinan, namun yang mendominasi adalah Katolik dan Islam dari total sekitar 600 lebih warga yang terdiri dari lima rukun tetangga (RT).

“Kalau acara nyadran kami acara bareng di makam berdoa menurut agama masing-masing setelah itu makan-makan bareng,” kata dia.