Akurasi GeNose Buatan UGM Terus Dikembangkan

GeNose C19 adalah alat pendeteksi virus corona yang dikembangkan para peneliti di Universitas Gajah Mada dan sudah mendapatkan Izin Edar dari Kementerian Kesehatan. / KEMENTERIAN BUMN
26 Februari 2021 17:17 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Dengan dukungan pemerintah, Peneliti UGM terus mengembangkan kecerdasan alat deteksi Covid-19 melalui embusan napas, GeNose C19, agar semakin akurat.

Ketua Tim Peneliti sekaligus penemu GeNose C19, Kuwat Triyana, menjelaskan timnya terus berusaha mengembangkan akurasi GeNose C19 dengan menambah kemampuan sensitivitas dan spesifisitas.

Saat ini, timnya sedang berfokus pada aspek kontaminasi yang dapat menyebabkan sensitivitas GeNose C19 terganggu, misalnya karena seseorang merokok sebelum tes.

BACA JUGA: Begini Mekanisme dan Cara Daftar Vaksinasi untuk Lansia

“Kami mencoba memastikan alat kami setiap saat, juga meningkatkan kecerdasan buatan GeNose C19 dengan memperbarui sampel setiap hari,” ujarnya, dalam forum diskusi Enabling Global Health Security yang diadakan oleh UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Studies (UKICIS), Kamis (25/2/2021).

Salah satu peneliti GeNose C19 lainnya, Dian K. Nurputra, mengatakan secara teknologi dan teknik, mesin GeNose C19 telah mapan. Namun, saat ini peneliti masih menyempurnakan kecerdasan buatan yang menjadi otak dari alat skrining Covid-19 tersebut.

“Penggunaan GeNose C19 di stasiun dan bandara akan menghimpun data-data baru bagi pengembangan kecerdasan buatan yang semakin akurat,” katanya.

Dian menuturkan GeNose berbeda dari teknologi serupa dari negara lain. GeNose C19 mendayagunakan sistem semburan pada kantong napas yang tidak tersambung langsung dengan mesin.

“Saat kantong napas disambungkan ke mesin, proses hisapan dengan aliran udara yang stabil ke dalam mesin akan membuat pembacaan sensor lebih akurat,” ujarnya.

Pada GeNose C19, embusan napas tidak langsung ditiupkan pada sensor. Tiupan langsung akan mengakibatkan ketidakakuratan sensor dalam membaca, karena aliran udara yang tidak stabil dan bervariasi dari masing-masing pengguna.