Pandemi Belum Berlalu, Tukang Becak & Kusir Andong di Malioboro Kian Menderita

Tukang becak di kawasan Malioboro, Kamis (4/3/2021). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
04 Maret 2021 14:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penarik becak dan andong di kawasan wisata Malioboro semakin terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Ketua Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY) Parmin mengatakan pendapatan selama pandemi menurun signifikan karena rata-rata tukang becak bergantung pada pariwisata.

BACA JUGA: Rel Bandara YIA Hampir Rampung, Diklaim Bebas Ancaman Banjir karena Melayang

“99% tukang becak mengandalkan pariwisata, jadi ya sangat terdampak saat ini. Jumlah anggota kalau yang terdata di Dinas Perhubungan DIY ada 1.700an, khusus Malioboro ada 300an,” ujar Parmin, Kamis (4/3/2021).

Parmin mengungkapkan rata-rata penghasilan per hari tukang becak di kawasan Malioboro sebelumj pandemi Rp70.000 per hari. Namun, saat ini untuk mengantongi Rp10.000 saja sudah sulit. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari, Parmin menceritakan beberapa tukang becak meminta bantuan dari orang-orang yang melintas di jalan.

“Ada yang ngamen, ada meminta bantuan, ada yang nyambi buruh, karena benar-benar tidak ada pemasukan, dan harus bayar utang dan lain-lainnya,” ucapnya.

Selain mengandalkan bantuan, anggota PBMY juga mencoba memaksimalkan koperasi anggota yang ada.

BACA JUGA: Tren Kasus Positif Covid-19 di Bantul Mulai Menurun

“Di sub-sub PBMY ini ada semacam koperasi, jadi yang misal tidak ada uang ya pinjam dulu, nanti kalau sudah ada dikembalikan. Saling bantu juga, tetapi ya seadanya. Dari kami harapannya ya ada kemudahan untuk akses wisatawan datang itu, karena kami bergantung pada itu,” ujarnya.

Ketua Paguyuban Kusir Andong DIY Purwanto mengatakan kondisi saat ini sangat berat bagi kusir andong. Pendapatan yang dulu rata-rata Rp150.000 sehari saat ini sangat sulit didapatkan.

“Kalau sekarang minus malahan pendapatan. Ada beberapa anggota juga beralih pekerjaan kalau ada keterampilan lain. Dulu sebelum pandemi 474 anggota, setelah pandemi di Oktober 2020 hanya 385 anggota. Sekarang belum cek lagi yang aktif berapa. Saat ini juga sulit untuk berharap bagaimana,” ucapnya.