Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Warga Diimbau Waspada

Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
05 Maret 2021 20:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Merapi diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul adanya peningkatan aktivitas vulkanik di gunung tersebut.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida menyatakan dalam sepekan terakhir terhitung sejak 26 Februari hingga 5 Maret ada peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Merapi. Pada 4 Maret gunung ini juga sudah mengalami erupsi efusif.

"Aktivitas Gunung Merapi sejak 4 Januari mengalami erupsi yang sangat efusif, aktivitasnya berupa guguran lava dan awan panas dengan jarak jangkau maksimum adalah 3,5 Km dengan rata-rata kurang dari 1km," terang Hunik dalam teleconference bertajuk Aktivitas Merapi Terkini, Jumat (5/2/2021).

Baca juga: Istri Wakil Bupati Jadi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman

Hanik menerangkan dalam sepekan terakhir ada 11 kali luncuran awan panas terjadi di Gunung Merapi. Sehingga total kejadian awan panas sejak erupsi 7 Januari 2021 hingga saat ini telah mencapai 111 kali.

Dalam durasi yang sama, juga tercatat satu kali gempa vulkanik dangkal, empat kali gempa fase banyak, 1.135 kali gempa guguran, 71 kali gempa hembusan dan tiga kali gempa tektonik.

Dari pengamatan BPPTKG, volume kubah lava di sisi barat daya gunung tersebut telah mencapai 711.000 meter kubik dengan kecepatan pertumbuhan rata-rata per tanggal 5 Maret sebesar 8.300 meter kubik. Adapun rata-rata pertumbuhan sejak 4 Januari hingga saat ini sebesar 13.900 meter kubik per hari.

Baca juga: Pelaku Pembuangan Bayi di Indekos Prambanan Ternyata Ibunya Sendiri

Selain itu juga nampak titik api diam di puncak gunung tersebut yang menandakan ada magma yang muncul ke permukaan. "Itu tanda masih ada magma bergerak dari dalam menuju permukaan," ujar Hunik.

Dari hasil pengamatan aktivitas Merapi ini, BPPTKG menyatakan saat ini gunung itu masih berstatus siaga dengan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas di sisi selatan-barat daya yang meliputi Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh 5 km dan sektor tenggara yaitu ke Kali Gendol sejauh 3 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

"Hujan abu juga sudah sering terjadi di sekitar Gunung Merapi. Karena itu masyarakat dan pemerintah daerah agar mengantisipasi bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu Gunung Merapi," ucap Hanik.

Bagi masyarakat yang tinggal di luar potensi daerah bahaya itu tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa. "Namun jika terdapat perkembangan erupsi yang mengarah ke daerah tersebut dan mengharuskan untuk menjauh kembali maka setidaknya masyarakat sudah memanfaatkan waktu yang ada dengan baik sesuai dengan konsep living harmony dengan merapi," ujarnya.

BPPTKG juga merekomendasikan Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten agar melakukan upaya-upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman erupsi Merapi. Penambangan pasir di alur-alur sungai yang berhulu Gunung Merapi dalam Kawasan Rawan Bencana III juga direkomendasikan untuk dihentikan.

Pelaku wisata juga direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 Km dari puncak gunung tersebut.

Panewu Cangkringan, Sleman, Suparmono mengatakan sejak beberapa hari terakhir ini warga di Cangkringan melihat adanya lava pijar dari puncak Merapi yang mengarah ke sisi selatan. "Dari laporan warga memang lihat itu," ujarnya.

Suparmono sendiri telah mendapat informasi dari BPPTKG terkait kondisi Gunung Merapi saat ini. Dari informasi itu menurutnya warga masih bisa beraktivitas seperti biasa. "Sudah dapat itu, dan sesuai rekomendasi masih boleh beraktivitas karena jarak [permukiman dari puncak] masih aman," ucapnya.