Tak Hanya Pragmatis, Kerja Insinyur Harus Berlandaskan Nilai Kepentingan Kemanusiaan

Pelantikan Insinyur Lulusan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI), Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Selasa (9/3/2021).-Harian Jogja - Abdul Hamid Razak
09 Maret 2021 18:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI), Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta menggelar Pelantikan Insinyur, Selasa (9/3/2021). Pelantikan para insinyur tersebut digelar secara virtual dan menerapkan protokol kesehatan.

Ketua Program Studi Program Profesi Insinyur USD Yogyakarta Petrus Kanisius Purwadi mengatakan pelantikan profesi insinyur tersebut merupakan yang pertama dilakukan sejak program studi ini dibuka tahun lalu. Terdapat sembilan lulusan angkatan pertama yang dilantik dan diambil sumpahnya sebagai insinyur.

"Mereka yang dilantik ini seluruhnya merupakan angkatan pertama Program Profesi Insinyur yang dibuka pada 2020/2021. Terdapat sembilan lulusan, tujuh orang laki-lali dan dua orang perempuan," katanya saat membacakan laporkan sebelum kegiatan pelantikan.

Dijelaskan dia, dari sembilan peserta hanya dua peserta yang mengikuti jalur reguler sementara tujuh peserta lainnya mengikuti jalur studi rekognesi pembelajaran lampau karena sudah mencapai insinyur profesional madya. Lulusan angkatan pertama ini tertua berusia 55 tahun dan termuda berusia 47 tahun.

"Untuk angkatan pertama ini semuanya dinyatakan lulus. Empat peserta mendapatkan IPK tertinggi 3,88, yakni tiga laki-laki dan seorang perempuan. Tujuh lulus dengan camlaude dan lainnya sangat memuaskan," katanya.

Rektor USD Johanes Eka Priyatma mengatakan para insinyur baru tersebut diharapkan mampu mewarnai khasanah keilmuan dan pendidikan tinggi khususnya di USD. Menurut Eka, membuka pendidikan profesi insinyur dalam konteks perguruan tinggi swasta tidak mudah. "Peminatnya tidak banyak dan USD memiliki pengalaman sejenis yakni pendidikan profesi akuntansi. Meski sudah berjuang keras, namun pendidikan profesi akuntansi akhirnya tutup," katanya.

Namun demikian, kata Eka, USD memiliki visi dan misi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan menjaga martabat kemanusiaan. Untuk itu, keberadaan para insinyur diharapkan ikut mengemban misi tersebut. "Saya bukan insinyur, Saya sarjana matematika. Secara keilmuan dan yang diperjuangkan oleh lulusannya juga berbeda," kata Eka.

Lulusan matematika konsisten dengan sistem, sementara insinyur tidak perlu tersistem tetapi bermanfaat dan efesien. Nuansa pragmatis para insinyur dominan, sebaliknya lulusan matematika idealis. "Kiprah insinyur saat ini mendominasi setiap lini kehidupan. Maka nilai kepragmatisan tadi harus dilengkapi dengan nilai keutamaan publik. Untuk menjaga martabat kemanusiaan maka tindakan insinyur harus dapat dipertanggungjawbankan untuk menjaga keselamatan hidup orang banyak," kata Eka.

Dia menyontohkan, di luar negeri kurikulum sebuah profesi mengikuti standart tertentu karena terkait dengan kepentingan orang banyak. Banyak profesi lain yang tidak bisa sepenuhnya mengikuti kaidah keilmuan, yang penting jalan, yang penting efesien. Untuk itu insinyur yang profesional, tidak lagi hanya mengejar pragmatisme tetapi harus dilandaskan pada tata nilai yang tujuannya menjamin kualitas publik.

Dia berharap, lulusan profesi insinyur USD juga mendorong terciptanya tata kehidulan yang lebih baik. Dia berharap peran para insinyur membantu bangsa memiliki kehidupan yang bermatamabat. "Nah, profesi insinyur harus memegang prinsip mengutamakan kepentingan publik agar keputusan dan tindakannya bertujuan untuk kemanusiaan dan keselamatan publik. Di luar negeri, tukang ledeng harus memiliki sertifikat pasang pipa di sini belum," kata Eka.

Sementara Ketua Penjamin Mutu LKDIKTI Wilayah V Sukarsono Windu Kumoro mengatakan USD sudah bekerja keras untuk melahirkan lulusan profesi insinyur. Lulusan pertama program profesi insinyur dibuka untuk mengakomodasi lulusan sarjana teknis yang membutuhkan keahlian khusus dengan kualifikasi tertentu.

Lulusan profesi insinyur SD, lanjut Sukarsono diharapkan tidak hanya mampu bersaing dengan kompetensi tetapi juga memiliki aspek legal keprofesian. Hal ini dinilai penting agar SDM yang ada dapat diakui dan memikiki keahlian di tingkat ASEAN. "Ini sejalan dengan pemberlakukan MEA di mana salah satu bentuk liberalisme profesi, butuh penguasaan kealian tertentu," katanya.