Tanpa Ogoh-ogoh, Prosesi Tawur Agung Kesanga di Prambanan Digelar Sederhana

Prosesi ritual upacara Tawur Agung Kesanga sebagai rangkaian menyambut hari raya Nyepi digelardi plataran Candi Prambanan, Sabtu (13/3/2021) - Ist
14 Maret 2021 08:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Ritual Upacara Tawur Agung Kesanga sebagai rangkaian menyambut hari raya Nyepi digelar
di plataran Candi Prambanan, Sabtu (13/3/2021). Perayaan yang mengangkat tema ‘Memayu Hayuning Bhuwana dan Meningkatkan Harmoni Menuju Indonesia Sehat’ ini mengajak umat untuk refleksi terhadap kondisi saat ini dan membangun kehidupan yang lebih baik lagi.

"Mari momentum ini kita gunakan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh bangsa Indonesia diberi kekuatan. Momen ini bisa digunakan untuk membangun kehidupan yang baru, kehidupan yang lebih baik untuk menghadapi tantangan di era pandemi ini," ujar Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana dalam sambutannya pada upacara tersebut.

Upacara Tawur Agung dilaksanakan sebagai proses penyucian manusia dapat hidup selaras dengan alam semesta dan melestarikan keharmonisan dengan alam. Biasanya, Ritual Tawur Agung diisi oleh beragam kegiatan seperti tari Ogoh-ogoh dan pentas tari budaya.

Baca juga: Merapi Semburkan 12 Awan Panas & 226 Guguran Lava dalam Sepekan, Puncak Berubah

Tahun ini, ritual jelang Nyepi ini diselenggarakan secara sederhana dan penuh khidmat. Untuk perayaan kali ini penyelenggara membatasi jumlah orang yang datang langsung. "Paling banyak memang di Prambanan dengan jumlah 100 peserta. Di tempat lain hanya 50 orang. Kami mengikuti apa yang dianjurkan pemerintah demi ikut serta menurunkan kurva pandemi," ujar Ketua Panitia Nyepi 1 Saka 1943 I Wayan Tartama.

Tawur Agung Kesanga terdiri dari beberapa prosesi, seperti prosesi Mendak Tirta alias menjemput air suci. Dalam ritual ini, para umat beriringan mengarak umbul-umbul, berbagai persembahan diiringi bunyi gamelan menuju ke Candi Siwa.
Setelah itu, rombongan berjalan mengelilingi Candi Dewa Siwa sebanyak tiga kali searah jarum jam.

Prosesi Pradaksina kali ini berjalan dalam suasana yang khusyuk mengingat peserta dalam jumlah terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Setelah itu, rombongan pembawa Tirta disambut dengan tari penyambut Tirta yang bertajuk Tari Rejang Dewa. Tari klasik ini merupakan tari yang mengiringi tirta Tawur Kesanga yang nantinya menjadi medium penyucian peserta upacara.

Dalam momen ini, Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) Edy Setijono mengajak seluruh peserta agar lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan, terutama di kala pandemi ini. Penyelenggaraan Tawur Kesanga ini diharapkan bermakna spiritual dan ritual buat seluruh umat hidup untuk lebih mendekatkan diri kepada sumber kehidupan.

Baca juga: Pemkab Bantul Sudah Dua Kali Berangkatkan Tenaga Kerja ke Perusahaan Batam

"Prosesi ini bisa menjadi momentum pengingat, betapa lemahnya kita terhadap alam. Pandemi ini ternyata bisa melumpuhkan seluruh aktivitas kegiatan kita. Semoga melalui prosesi ini, kita lebih bijaksana
dalam menjalani kehidupan," harapnya. *