Advertisement
Produktivitas Padi di Masa Tanam Pertama Diklaim Lebihi Target
Ilustrasi. - AntaraFoto/ Yusran Uccang
Advertisement
Harianjogja.com, PATUK – Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul memastikan produktivitas padi di masa tanam pertama melebih target. Pasalnya, hasil panen sementara mencapai 248.270 ton gabah. Jumlah ini masih bisa bertambah karena masih ada 533 hektare lahan yang belum dipanen.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, di masa tanam pertama ini menargetkan gabah seberat 245.000 ton. Meski demikian, jumlah tersebut telah terlampaui karena panen sementara sudah mencapai 248.270 ton gabah. “Sudah terlampaui karena hasil panen bisa maksimal,” kata Raharjo, Minggu (21/3/2021).
Advertisement
BACA JUGA : Pemerintah Ingatkan Petani Jangan Hanya Fokus
Menurut dia, terlampauinya target panen tidak lepas dari masa pemeliharaan oleh para petani. Sedangkan adanya fenomena La Nina tidak memberikan pengaruh buruk karena perkembangan tanaman dapat tumbuh dengan subur. Selain itu, adanya serangan hama bisa diantisipasi sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi.
“Faktor ini juga tidak lepas adanya kelancaran distribusi pupuk serta penggunaan benih unggul sehingga mendongkrak produktivitas padi,” ungkapnya.
Raharjo menjelaskan, luasan lahan di masa tanam pertama mencapai 47.919 hektare. Adapun rinciannya, lahan padi sawah seluas 7.325 hektare dan padi gogo seluas 40.594 hektare.
Meski produktivitas sudah melebihi target, namun Raharjo optimistis panennya bisa lebih banyak lagi. Hal ini dikarenakan masih ada lahan seluas 533 hektare sehingga bisa menambah produksi gabah di masa tanam pertama. “Yang belum panen salah satunya ada di Sumbergiri, Kapanewon Ponjong,” katanya.
BACA JUGA : Memasuki Musim Tanam Pertama, Ini Kondisi Stok Pupuk
Salah seorang petani di Dusun Plumbungan, Putat, Patuk, Ranto Wiyatno mengatakan, pemeliharaan tanaman padi di masa tanam pertama berjalan dengan baik. Hal ini pun berdampak terhadap hasil panen, ia mengakui dari dua petak sawah yang digarap mampu menghasilkan gabah sebanyak 20 karung.
Menurut dia, hasil panen jarang dijual karena untuk cadangan pangan sehari-hari. Selain itu, di Putat juga ada tradisi menyumbang warga sedang hajatan. “Hasilnya untuk makan sekeluarga. Tapi, saat ada warga hajatan, beras yang dimiliki digunakan untuk menyumbang,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kemenhub Ingatkan Bahaya Balon UdaraBagi Penerbangan Arus BaliK
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Nelayan Bantul Hilang di Muara Opak, Motor Terparkir di Hutan Mangrove
- Angin Kencang di Prambanan: Belasan Rumah Rusak dan Joglo Roboh
- Volume Surat Menyurat Turun 40 Persen, Ini Strategi Kantor Pos Jogja
- HUT ke-22 Tagana Sleman: Danang Maharsa Puji Dedikasi Relawan
Advertisement
Advertisement







