Klaster Takziah Juga Muncul di Pandowoharjo, Ini Kronologi Lengkapnya

Warga Dusun Plalangan, Kalurahan Pandowoharjo, Kapanewon Sleman melakukan pembatasan kegiatan masyarakat, Senin (29/3). - Harian Jogja/ Abdul Hamid Razak.
29 Maret 2021 21:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Selain di Dusun Blekik, Ngaglik, klaster takziah lainnya juga muncul di Dusun Plalangan, Kalurahan Pandowoharjo, Kapanewon Sleman. Bahkan dusun ini sudah dilockdown selama 14 hari terakhir.

Dukuh Palalangan Pandowoharjo, Sleman Jamaludin mengatakan kasus di dusun tersebut muncul karena ada warga RT 02 berusia 90 tahun yang meninggal dunia. Warga ini meninggal tanpa ada gejala Covid-19. "Meninggal 28 Februari lalu. Bukan pasien Covid-19. Karena menunggu anak-anaknya pulang dari luar daerah, akhirnya terlambat dikuburkan," katanya, Senin (29/3/2021).

BACA JUGA : Berawal Takziah, 44 Warga di Sleman Positif Covid-19

Setelah itu ada keluarga yang mengalami gejala terpapar Covid-19 kemudian melakukan tes mandiri di mana hasilnya dinyatakan positif. Akhirnya Satgas Covid-19 padukuhan bersama Puskesmas Sleman melakukan tracing. Total ada 392 warga yang di swab antigen.

"Banyak ditemukan warga yang terpapar Covid-19. Awalnya yang positif empat orang bertambah jadi 32 warga. Mereka diminta melakukan isolasi mandiri," katanya.

Kemudian digelar tracing lanjutan ke warga lainnya, seperti warga yang ikut membantu masak-masak. Hasilnya juga banyak yang ditemukan positif Covid-19. Dia menduga, mereka terpapar dari warga yang lebih dulu terpapar Covid-19.

"Ada satu orang yang meninggal karena Covid-19 berusia 40 tahunan. Sampai saat ini yang dikarantina ada 25 orang karena positif Covid-19, yang tidak terpapar baru suspek ada 12 orang," katanya.

Dari jumlah tersebut, 26 warga sudah menjalani karantina. Tinggal sembilan orang warga yang masih menjalani isolasi mandiri. Mereka isolasi mandiri di tujuh rumah berbeda. Untuk menekan penularan, warga menjaga akses keluar-masuk di Plalangan.

BACA JUGA : Muncul Klaster Takziah, Puluhan Warga Isolasi Mandiri

"Semua yang keluar-masuk diseleksi. Selain warga Plalangan tidak boleh masuk. Ini untuk memutus mata rantai penularan Covid-19," ujar dia.

Pembatasan akses dilakukan sejak 16 Maret lalu. Sebenarnya, kata Jamaludin, pembatasan kegiatan berakhir pada 29 Maret kemarin. "Hanya saja karena ada penambahan kasus, pembatasan aktivitas warga diperpanjang seminggu kedepan, sampai 2 April," katanya.

Penewu Sleman, Mustadi mengakui saat takziah terjadi pada 28 Februari lalu cukup banyak warga yang datang. Tidak hanya warga sekitar tetapi juga warga kampung lain hingga sanak keluarga dari luar daerah. "Beberapa hari setelahnya ada pihak keluarga yang sakit dan positif Covid-19. Setelah tracing totalnya saat ini mencapai 25 orang yang positif," katanya.

Mustadi berharap, swab massal dan kebijakan lockdown di padukuhan tersebut dapat memutus mata rantai penularan. "Setelah ada kasus, pak Dukuh dan satgas menutup, istilahnya lockdown lokal, memperketat akses. Ya ini untuk mencegah penularan," ujar dia.