Beradaptasi dengan Pandemi, Dancer di Jogja Berinovasi lewat Tik Tok

Dari kiri ke kanan. Paimin, Paramitha, dan Firman dalam diskusi seni bertema Membaca Komodifikasi Tari dari VCD sampai Tik Tok di Taman Budaya Yogyakarta pada Kamis (8/4/2021)-Harian Jogja - Sirojul Khafid
08 April 2021 18:57 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Seiring perkembangan zaman, cara penyebaran seni budaya juga berubah, termasuk saat ini dengan media Tik Tok. Firman Setyo Anam salah satu contohnya. Sejak kegiatan sebagai freelance dancer berkurang akibat pandemi Covid-19, Firman memutar otak untuk tetap berekspresi.

Tik Tok menjadi ruang yang cocok untuk menari. Namun awalnya Firman merasa kesulitan. Dia masih mencari bentuk yang cocok dari segi jenis tarian dan lagu. Respon yang bagus baru Firman terima saat menari dengan iringan lagu Jawa nuansa dangdut.

Sejak saat itu, konten menari dengan iringan lagi Jawa semakin Firman kembangkan. Dia mengajak beberapa teman yang akhirnya mendapat sebutan Ambyar People. "Awalnya sendiri dan akhirnya anggotanya naik. Banyak yang mengikuti tarian saya di platform Tik Tok, berarti peluang saya ada di musik nuansa Jawa dan lagu dangdut ambyar, " kata Firman pada diskusi seni bertema Membaca Komodifikasi Tari dari VCD sampai Tik Tok di Taman Budaya Yogyakarta pada Kamis (8/4/2021).

Kini pengikut Firman di Tik Tok mencapai ribuan. Selain mendatangkan keuntungan materi, konten Tik Tok berlatar Jogja juga memberikan dampak baik, termasuk promosi pariwisata. Belum lagi pendekatan Tik Tok membuat kalangan muda lebih akrab dengan budaya Jawa sebagai latar dari konten Firman.

"Diminati beberapa kalangan, dari dewasa sampai anak kecil," kata Firman.

Apabila Firman menggunakan Tik Tok, berbeda lagi dengan Paimin sebagai pegiat Gedrug Saleho Boyolali. Pada awal-awal pementasan, Paimin dan beberapa rekannya merekam untuk kepentingan dokumentasi dalam bentuk VCD. Namun seiring berjalannya waktu, serta popularitas Gedrug Saleho yang semakin naik, banyak orang yang menjual VCD penampilan Gedrug Saleho ini.

Saat sedang berkunjung ke luar Kota seperti Demak dan Wonosobo, Paimin ternyata menemukan VCD tersebut. "Di luar itu ternyata di pasar juga laris. Peredarannya tidak hanya di Boyolali," kata Paimin.

Di masa modern ini, banyak pula yang mengunggah video Gedrug Saleho di Youtube. Jumlah penontonnya juga jutaan. Namun penjual VCD dan pemilik akun Youtube yang mendapat keuntungan ternyata bukan penari atau internal Gedrug Saleho.

Paimin mengira, banyaknya peminat Gedrug Saleho sebagai hasil dari penyesuaian tari dan musiknya. Berbeda dengan Gedrug umum, Gedrug Saleho menggunakan alat musik modern dan lebih populer. Peralatan dan konsep panggung juga dimaksimalkan, salah satunya dalam hal lighting.

Menurut peneliti dan Pengajar Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada, Paramitha Dyah Fitriasari, pola persebaran budaya mengikuti perkembangan zaman. Meskipun penjual atau pengunggah karya mendapat keuntungan material dari komoditas ini, pegiat seni juga mendapat keuntungan, khususnya dari sisi popularitas.

Meskipun dari sisi pembajakan bisa jadi negatif, namun dari sisi promosi cukup berdampak baik pada pegiat tari seperti Gedrug Saleho. "Sekaligus mengenalkan ke masyarakat yang lebih luas," kata Paramitha.

Setiap kalangan memiliki platform menikmati seni sendiri-sendiri. Meski Tik Tok atau media sosial lain telah populer, masih ada masyarakat yang memanfaatkan VCD. Konten Tik Tok yang banyak dianggap remeh juga memiliki konsep yang perlu banyak persiapan. Semua cara ini pegiat seni lakukan untuk mendapat keuntungan, tidak hanya materi, tapi juga popularitas.

"Enggak hanya gerak, ada konsepnya," kata Paramitha. "Yang tadinya belum dipandang sebegai nilai ekonomis, sekarang menjadi komoditas."

Namun seiring perkembangan digital ini, degradasi nilai seni menjadi hal tak terelakkan. Menonton melalui layar akan berbeda rasanya dengan menonton secara langsung. Ada suatu rasa yang hilang.

"Bagaimana menonton pentas dari layar sama nonton langsung, deg-degannya beda," kata Paramitha.

Diskusi seni ini merupakan acara rutin dari TBY. Menurut Kepala TBY Diah Tutuko, tema dan peserta dalam setiap diskusi akan berbeda. Harapannya, diskusi ini bisa menjadi ruang untuk membuat inovasi dalam berseni, terutama di masa pandemi.

"Perlu diutarakan kepada semua kalangan dan perlu dipahami semua, di masa seperti ini, banyak perubahan, inovasi dan pengembangan dengan sistem baru," kata Diah. (*)