Situs Warisan Geologi Terendam Lumpur Akibat Pembangunan Bendungan

Bupati Gunungkidul Sunaryanta saat melihat koleksi bebatuan dari aliran Kali Ngalang yang disimpan di Plosodoyong Field Camp Georesearch Indonesia di Kalurahan Ngalang, Gedangsari, 22 Maret 2021. - Harian Jogja - David Kurniawan
26 April 2021 06:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Koordinator Plosodoyong Field Camp, Georesearch Indonesia, Pri Harjo Sanyoto menyambut baik penetapan Kalingalang di Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul sebagai salah satu cagar alam geologi. Penetapan itu diharapkan ada upaya konservasi bisa dilaksanakan secara massif.

Meski demikian, ia menyadari program pelesatarian tidak berjalan dengan mudah karena banyak tantangan yang harus dihadapi. “Tentunya ini harus dilakukan dan sebisa mungkin keberaannya juga dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar,” katanya, Minggu (25/4/2021).

BACA JUGA : Tak Diurus, Wisata Puncak 4G di Gedangsari Gunungkidul

Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan 20 lokasi geoheritage di DIY, tersebar di Kabupaten Kulonprogo, Sleman, Bantul, dan Gunung Kidul melalui penyerahan Keputusan Menteri ESDM Nomor 13.K/HK.1/MEM.G/2021 tentang Penetapan Warisan Geologi (Geoheritage) Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Kementerian ESDM kepada Gubernur DIY yang dilakukan di Yogyakarta. Dari 20 tersebut, salah satunya adalah Bioturbasi Kali Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul.

Pri Harjo Sanyoto mengungkapkan, upaya pelesatrian Kali Ngalang harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu sampai hilir. Ia mencatat di sepanjang aliran yang melinatas dari Kalurahan Mertelu, Hargomulyo hingga Ngalang terdapat sepuluh situs geologi.

Meski demikian, tidak semuanya dalam kondisi bagus. Pasalnya, dua situs yang berada di Dusun Karanganyar, Ngalang telah terendam air dan lumpur. Hal ini tidak lepas adanya pembangunan bendungan yang dilakukan tahun lalu.

“Praktis dengan dibendung kedua situs kini tidak terlihat sehingga sudah tidak bisa untuk kajian penelitian,” katanya.

Ia menjelaskan, dua situs yang terendam terdiri dari lapisan tanah lempung dengan struktur cleavage. Sedangkan satu situs lagi berupa struktur bebatuan yang berupa sesar aktif yang berlokasi tepat di atas bendungan.

BACA JUGA : Situs Ngalang Gunungkidul Dikembangkan Jadi Destinasi 

“Kami tidak melarang dibangun bendungan karena memang tujuannya untuk menghidupkan area pertanian. Namun, seharusnya bisa dikoordinasikan sehingga tidak mengganggu situs cagar alam geologi,” ujarnya.

Permasalahan lain terhadap cagar alam geologi di Kali Ngalang juga adanya aktivitas penambangan menggunakan alat berat didekat situs yang berada di Dusun Ploso Doyong. Menurut Pri, aktivitas ini bisa mengganggu kajian ilimah yang dilakukan oleh para mahasiswa dari dalam maupun luar negeri.

“Memang lokasinya tidak berada di aliran sungai. Tapi, sangat berdekatan sehingga akan berpengaruh terhadap citra dan upaya konservasi lingkungan sekitar situs,” katanya.

Ia berharap pemerintah bisa melakukan edukasi sehingga upaya pelestarian di area situs bisa benar-benar terlaksana dengan baik. “Situs cagar alam geologi ini sangat berharga sehingga harus dilestarikan,” katanya.