Gelorakan Jas Merah, Disbud DIY Gelar Lawatan Sejarah

Suasana pembekalan untuk peserta Lawatan Sejarah oleh Disbud DIY beberapa waktu lalu-Ist - Disbud DIY
29 April 2021 06:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Untuk mengingatkan arti penting sejarah, khususnya untuk generasi muda, Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY kembali selenggarakan Lawatan Sejarah tahun 2021. Menurut Pelaksana Tugas Kepala Disbud DIY, Sumadi, kegiatan berupa kompetisi karya ilmiah sejarah ini menyasar siswa-siswi tingkat Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, dan Madrasah Aliyah se-DIY.

"Kami ingin selalu mengingatkan pada generasi muda untuk jas merah atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sejarah merupakan cerminan generasi muda untuk melangkah di masa depan," kata Sumadi, Selasa (27/4/2021).

Sumadi berharap dengan kegiatan Lawatan Sejarah ini, generasi muda bisa lebih akrab dengan sejarah yang nantinya bisa membentuk karakter. "Kalau bisa cinta dengan sejarah, bisa menimbulkan rasa cinta tanah air yang lebih mendalam," kata Sumadi.

Dalam teknisnya, Lawatan Sejarah terbagi dalam beberapa tahap. Pada tahap pertama, Disbud DIY bekerja sama dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia di DIY dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah untuk menjaring siswa-siswi yang potensial. Menurut Kepala Seksi Sejarah Disbud DIY, I Gede Adi Atmaja, ada 80 siswa-siswi pada tahap pertama ini yang berasal dari kota dan kabupaten di DIY. Setelah seleksi tahap pertama, pembekalan peserta berlangsung pada 10 April 2021 yang lalu.

BACA JUGA: Densus Borgol & Tutup Mata Munarman, Kabag Penum Polri: Kok Pada Ribut?

"Salah satunya diberikan studi literasi, khususnya cara membuat karya tulis sejarah yang benar. Kegiatan ini menekankan penulisan literasi yang benar, jangan sampai terjadi plagiasi dan lainnya," kata Gede.

Setelah mendapat pembekalan, 80 peserta akan membuat karya tulis dengan tema besar Jawa dalam Balutan Budaya dan Sejarah: Kemajuan Kebudayaan Abad Ke-20. Adapun beberapa subtema yaitu Gedung SMA 11 sebagai tempat berdirinya Budi Utomo, Gedung Jayadipuran sebagai tempat kongres perempuan pertama, pergerakan-pergerakan kemerdekaan abad ke-20, tokoh-tokoh pergerakan nasional abad ke-20 dan lainnya.

Selain menulis, peserta juga akan mempresentasikan karyanya di depan juri yang terdiri dari Balai Pelestarian Nilai Budaya serta akademisi dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sanata Dharma. Dari 80 peserta akan ada penyaringan lagi untuk masuk tahap regional yang terdiri dari DIY, Jawa Tengah (Jateng) , dan Jawa Timur (Jatim). Penyaringan berlangsung pada akhir Mei 2021.

"Untuk tahun ini kami akan memilih 18 orang yang akan kami kirim seleksi Lawatan Sejarah regional pada 22-24 Juni 2021," kata Gede.

Lawatan Sejarah 2021 akan berlangsung di DIY dengan campuran sistem luring dan daring. Bagi peserta asal DIY, kegiatan presentasi akan berlangsung secara luring. Sementara presentasi peserta dari Jateng dan Jatim akan berlangsung secara daring. Sama seperti tahun 2020, tahun ini tidak ada seleksi tingkat nasional. Penyebab utamanya karena pandemi Covid-19.

Pada seleksi tingkat regional 2020, peserta dari DIY mendapat juara dua. Sementara untuk tingkat nasional, lima tahun terkhir peserta dari DIY selalu menyabet juara umum atau juara favorit. Tidak hanya untuk siswa-siswi, Lawatan Sejarah yang telah ada sejak 2013 ini juga diperuntukkan untuk guru pembimbing. Tahun ini ada sepuluh perwakilan guru yang lolos seleksi tahap awal. Sama halnya dengan siswa-siswa, pada 2019 guru dari DIY menjadi juara umum.

Dengan acara ini, Gede berharap anak-anak muda bisa kenal dan kemudian berminat melestarikan sejarah. "Kegiatan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat generasi muda untuk berkembang dalam mengisi kemerdekaan, meningkatkan wawasan kebangsaan kepada generasi muda agar mencintai dan memahami sejarah bangsanya, " katanya. "Mengingatkan anak muda untuk terbiasa menuliskan suatu karya sejarah, termasuk dari lingkungan sekitar."