Peringati Hari Kebebasan Pers, AJI Yogyakarta Gelar Memorabilia Wartawan Udin

Diskusi yang digelar di acara Memorabilia Wartawan Udin untuk memperingati Hari Kebebasan Pers, Senin (3/5/2021)-Harian Jogja - Lugas Subarkah
03 Mei 2021 20:57 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Memperingati Hari Kebebasan Pers Internasional yang jatuh pada Senin (3/5/2021), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta berkolaborasi dengan Connecting Design Studio, IndonesiaPENA dan Antologi Collaborative Space menggelar pameran seni bertajuk "Memorabilia Wartawan Udin".

Ketua AJI Yogyakarta, Shinta Maharani, menjelaskan Hari Kebebasan Pers diperingati untuk menginformasikan pelanggaran kebebasan pers, menegaskan prinsip dasar kebebasan pers, dan melawan serangan terhadap kemerdekaan atau independensi media. Selain itu untuk memberikan penghormatan kepada jurnalis yang telah kehilangan nyawa dalam menjalankan tugasnya.

“Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO menyebutkan dalam 14 tahun terakhir, hampir 1.200 jurnalis terbunuh karena melaporkan berita. UNESCO tahun ini mengambil tema informasi sebagai barang publik untuk Hari Kebebasan Pers,” ujarnya, Senin.

BACA JUGA: Zona Merah Bermunculan Jelang Lebaran, Ini Instruksi Sultan Jogja

AJI Yogyakarta bersama jaringannya memperingati Hari Kebebasan Pers kali ini dengan diskusi dan pameran seni pada 3-10 Mei di Antologi Collaborative Space, Caturtunggal, Depok, dengan tujuan mengingatkan pemerintah agar bertanggung jawab menyelesaikan kasus pembunuhan jurnalis Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin yang gelap hampir 25 tahun.

“Jurnalis bekerja memenuhi hak publik dan sudah sepatutnya mendapat perlindungan dari negara. Celakanya, perlindungan terhadap kerja jurnalistik di Indonesia sangat rendah. Udin adalah salah satu potret buruknya perlindungan terhadap kerja jurnalis,” katanya.

Diskusi yang berlangsung pada pembukaan pameran, Senin, 3 Mei menghadirkan Marsiyem, isteri Udin yang bercerita tentang sejumlah benda peninggalan Udin yang dipamerkan. Narasumber lainnya adalah mantan Redaktur Harian Bernas, Heru Prasetya, Masduki selaku pendiri IndonesiaPENA, Tri Wahyu KH dari Koalisi Masyarakat untuk Udin atau K@MU, dan Anang Saptoto sebagai kurator pameran.

Selain repro foto 20 benda-benda Studio Foto Kresna, pameran ini juga menyajikan repro kliping media massa kasus pembunuhan Udin tahun 1996, 25 poster linimasa Udin yang sebelumnya diproduksi untuk IndonesiaPENA.

Pengunjung bisa melihat mug dengan desain tentang kekerasan terhadap jurnalis di ruang pamer. Benda-benda peninggalan Udin tersebut penting diketahui publik untuk mengingat kembali jejak perjuangan jurnalis Udin semasa hidupnya.

Ada juga enam poster dan satu video animasi motion graphic karya mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia tentang advokasi melawan kekerasan terhadap jurnalis yang merupakan respon terhadap kekerasan yang menimpa jurnalis Tempo di Surabaya, Nurhadi beberapa waktu lalu.


Caption: Diskusi yang digelar di acara Memorabilia Wartawan Udin untuk memperingati Hari Kebebasan Pers, Senin (3/5/2021)-Harian Jogja/Lugas Subarkah