Garebeg Syawal, Kraton Jogja Bagikan 3.000 Ubo Rampe untuk Abdi Dalem

Abdi dalem membawa ubo rampe dalam proses Garebeg Syawal di Kraton Jogja, Kamis (13/5/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
13 Mei 2021 13:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Dalam rangka Garebeg Syawal 1442 Hijriah, Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat bagikan ubo rampe dalam bentuk hasil bumi kepada 3.000 abdi dalem.

Menurut Wakil Penghageng Parentah Hageng, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudho Hadiningrat, pembagian ubo rampe hanya kepada abdi dalem sebagai upaya tidak terjadi kerumunan di masa pandemi Covid-19. Ubo rampe ini merupakan rengginang yang dibuat seperti bunga dan ditancapkan di pelepah.

Pada kondisi normal, ubo rampe akan dibuat berbentuk gunungan. Setelah itu diarak menuju Alun-Alun Utara untuk dibagikan kepada masyarakat umum. “Sehingga yang biasanya Garebeg menggunakan gunungan dan itu kemudian di garebeg atau dirayah di Kagungan Ndalem Masjid Gedhe Kauman, Pakualaman dan Kepatihan, sekarang upacara hanya diadakan di dalam internal Kraton. Tapi tetap dikirim ke Pakulaman dan dikirim ke Pemerintah Daerah di Kepatihan,” kata KPH Yudho saat ditemui para media di Kraton Jogja, Kamis (13/5/2021).

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi memimpin upacara Garebeg Syawal tahun ini. Adapun beberapa keluarga Sri Sultan HB X yang hadir seperti GKR Condrokirono,GKR Maduretno, GKR Hayu, KPH Purbodiningrat, dan KPH Notonegoro.

Baca juga: Pemkab Gunungkidul Pastikan Tidak Ada Pariwisata yang Ditutup

Selain tahun ini, Garebeg tahun lalu juga hanya dilaksanakan secara internal. “Sudah menjadi tradisi Kraton Jogja setiap hari besar Islam selalu mengadakan upacara yaitu upacara Garebeg Maulud, Garebeg Syawal dan Garebeg Besar [tahun baru Islam],” kata KPH Yudho yang juga menjabat sebagai Wakil Penghageng Tepas Tandha Yekti. “Istilah Garebeg itu sedekah raja, ini juga disimbolkan sebagai sedekah Raja tapi yang diberi hanya abdi dalem karena pendemi. Biasanya yang diberi seluruh masyarakat.”

Menurut GKR Condrokirono, meskipun tahun ini terlaksana tanpa arak-arakan gunungan dan prajurit, makna Garebeg tidaklah hilang. “Meski tidak ada prosesi arak-arakan prajurit dan gunungan, Garebeg tetap tidak kehilangan esensinya, yakni perwujudan rasa syukur dari raja atas melimpahnya hasil bumi, yang dibagikan untuk rakyatnya,” kata putri kedua Sri Sultan HB X ini.

Melalui upacara ini, Kraton Jogja berdoa kepada Allah SWT agar Kraton Jogja senantiasa sejahtera, aman, serta guyub rukun.