PKL Malioboro Nuthuk Harga, Forpi: Penyakit Tahunan

Sejumlah pengunjung berjalan di kawasan Malioboro pada saat uji coba Malioboro bebas kendaraan bermotor, Rabu (11/11/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
27 Mei 2021 15:37 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja menilai persoalan nuthuk harga yang terjadi di kawasan Malioboro merupakan penyakit tahunan.

Baharuddin Kamba, Anggota Forpi Kota Jogja mengatakan, insiden nuthuk harga makanan atau menaikan tarif harga makan di luar kewajaran sudah sering terjadi.  Khususnya dimomen hari libur seperti libur Lebaran menjadi penyakit tahunan yang kerap terjadi dan hingga saat ini tidak ada efek jera karena terjadi lagi dan lagi.

"Kesannya sanksi selama ini dengan menutup sementara warung lesehan yang 'nuthuk' harga sifatnya sementara tidak permanen. Sehingga dimungkinkan hal tersebut kembali terulang. Kalaupun ditutup secara permanen bisa jadi yang jualan bukan pelaku 'nuthuk' harga melainkan kerabatnya atau bisa juga warungnya dijual ke orang lain," katanya, Kamis (27/5/2021).

BACA JUGA : Wisatawan Geram Pedagang Lesehan Nuthuk Harga, Begini Klarifikasi UPT Malioboro

Dijelaskan, nuthuk harga makanan termasuk nuthuk tarif parkir jelas merusak citra Kota Jogja sebagai kota wisata. Untuk itu hendaknya kanal-kanal aduan termasuk petugas Jogoboro maupun Sat Pol PP Kota Jogja agar dapat responsif terhadap aduan atau keluhan dari warga.

"Karena selama ini aduan maupun keluhan warga lebih banyak disampaikan di media sosial," ujarnya.

Sebelumnya Camat Danurejan, Bambang Endro Wibowo mengatakan, kemarin malam personel kemantren sudah melacak dan melakukan penelusuran untuk mencari pedagang yang disebut itu.

"Tadi malam staf kami sudah kirim pesan singkat ke akun yang posting video viral itu dan dia ngakunya cuman ambil video di tiktok saja bukan yang mengalami. Makanya kami juga sulit," katanya.

Pihaknya menanyakan ke empunya akun terkait dengan siapa yang mengalami kejadian itu. Personel kemantren juga minta agar pedagang dan lokasi pasti saat kejadian berlangsung disebutkan. Namun si pemilik akun malah berkilah dan menyebut tidak tahu persis dengan informasi itu.

BACA JUGA : Pemkot Jogja Ancam Tutup Lesehan di Kawasan Malioboro yang Nuthuk Harga

"Makanya kami bilang jangan asal posting dong tanpa tahu kebenarannya seperti apa. Kalau itu infonya salah kan bisa dipidana," ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga telah turun langsung ke lokasi untuk mengecek daftar harga yang dipasang oleh para pedagang dan juga kebenaran dari informasi itu. "Kami sudah telusuri dan pedagang bilang buktinya apa, kalau hanya video begitu kan susah, tidak kuat. Sementara yang upload dia juga tidak tahu karena cuman ambil doang," ulasnya.

Bambang menambahkan, kecuali jika bukti-bukti terkait dengan kejadian itu ada. Misal ada nota dan disebut rumah makannya. Pihaknya tentu mudah melacak dan memberi sanksi langsung kepada pedagang itu.

Namun demikian, terlepas informasi itu benar atau tidak Bambang mengaku pihaknya tetap melaksanakan pembinaan kepada para pedagang kaki lima di kawasan setempat, terkhusus yang berada di Jalan Perwakilan.

"Kami tetap melakukan pembinaan ke wilayah. Dengan tim langsung ke lokasi tadi untuk pembinaan. Hasilnya kami lihat mereka sudah pasang daftar harga dan termasuk lalap sambal juga ada sehingga pembeli sudah tahu harganya berapa," katanya.

Di sisi lain, dia juga mengaku tidak menemukan harga yang terlalu tinggi dari para penjual. Rata-rata harga makanan dan minuman yang dipasang diklaimnya masih cukup ramah di kantong.

BACA JUGA : Pemkot Jogja Ancam Tutup Lesehan di Kawasan Malioboro

"Kami cek satu-satu tadi, memang standar harganya tidak ada, misalnya makanan A itu mesti dijual berapa kan tidak ada. Ketetapan harganya tidak ada sebagai acuan," imbuhnya.

Dia mengaku sepenuhnya bertanggung jawab atas kejadian itu. Pihaknya juga tetap melakukan pembinaan kepada pedagang. Kemantren menyampaikan bahwa jangan sampai kejadian itu jangan terulang lagi karena semua kena imbasnya dan wisatawan jadi berpikir negatif terhadap Jogja.