Memikat Penonton dengan Mempertahankan Idealisme Teater

Dari kiri ke kanan, Ikun Sri Kuncoro, Briesman HS, dan Nur Iswantara dalam Dialog Sastra Edisi 2 bertema Apa Kabar Naskah Lakon Kita? di Gedung Societet, TBY, Jumat (21/5). (Harian Jogja - Sirojul Khafid)
27 Mei 2021 23:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penampilan dari Teater KSP dengan lakon Ceng membuka Dialog Teater Edisi 2 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Dengan kain hitam yang merentang di atas panggung, satu pemain teater menunjukkan kepalanya di atas kain hitam. Hanya kepalanya saja yang terlihat. Sembari berekspresi, terdengar gumaman tanpa arti dengan iringan kendang.

Setelah satu pemain kembali menghilang, secara bergantian pemain lain menunjukkan kepalanya. Lagi-lagi hanya kepala. Sepanjang pertunjukan, para pemain memang hanya menunjukan kepala, dengan sesekali tangannya membantu peragaan. Cerita lakon Ceng terlihat seperti hubungan antara manusia dengan segala hasrat seksualnya.

Pertunjukan selesai dengan iringan tepuk tangan penonton. Di masa pandemi Covid-19 ini, tepuk tangan memang tidak semeriah pada kondisi normal. Penonton yang hadir di Gedung Societet TBY duduk dengan jarak satu kursi kosong.

Tidak hanya selama pandemi, ternyata sudah ada keresahan para pemain teater terkait sedikitnya penonton, setidaknya itu yang Briesman HS sampaikan pada sesi diskusi bertema Apa Kabar Naskah Lakon Kita?

Menurut Briesman, banyak pelaku teater di Indonesia, baik itu bagian Barat, Tengah atau Timur Indonesia yang mengeluhkan antusiasme penonton. Jika ada penonton, seringnya berasal dari internal atau orang dekat pemain teater, entah itu keluarga, teman, atau sesama komunitas.

Sementara teater merupakan bisnis pertunjukan. “Mau tidak mau, pegiat teater perlu tahu siapa calon penonton, ini yang jarang kita [pegiat teater] perhatikan. Ini penting dan pokok, teater kalau tidak ada yang nonton itu bukan teater, tetapi baru latihan,” kata Briesman yang merupakan pegiat teater dan sutradara, Jumat (21/5).

Briesman mengatakan penting untuk meriset yang penonton mau lihat. Apabila hanya berkutat pada internal, termasuk ide, alur cerita, dan sebagainya, bukan tidak mungkin penonton enggan datang.

Setelah riset penonton mendapatkan hasil, proses penting berikutnya yaitu penulisan naskah. Menurut Kaprodi Sendratasik Institut Seni Indonesia, Jogja, Nur Iswantara, teater di Indonesia tidak lepas dari tradisi lingkungannya.

Setiap karya seni apapun memiliki pesan dari penulis yang sesuai dengan zamannya. Namun hal-hal tersebut belum tentu penonton sukai atau inginkan. “Apabila berbicara hal yang diingini oleh masyarakat, mungkin akan beda,” kata Iswantara. 

Meskipun penulis naskah teater merupakan bagian yang penting, namun kondisi penulis naskah itu sendiri masih sering tertindas.

Ruang Ekspresi

Menurut peneliti teater, Ikun Sri Kuncoro, banyak penulis naskah yang tidak bisa mengekspresikan sesuatu yang ingin dia tulis. Banyak penulis naskah yang hanya mendapat pesanan dari komunitas atau sutradaranya. “Sehingga dia tidak punya ruang ekspresi tersendiri yang dia hayati, tekuni dan perjuangkan. Situasi ini terus berlangsung, mungkin sejak awal Indonesia mengenal teater,” kata Ikun yang juga akademisi dan penulis ini.

Hal ini menjadi sulit karena pertunjukan teater merupakan kolaborasi dari berbagai pihak, setidaknya penulis naskah, sutradara dan produser. Sangat jarang orang memiliki tiga kemampuan ini, agar karyanya benar-benar sesuai keinginannya. Sehingga tidak hanya menulis, tapi orang tersebut juga menyutradarai dan mengorganisasi pertunjukan.

Salah satu cara yang bisa dicoba, agar penulis naskah tidak tertindas adalah dengan membuat sebuah wadah sesama penulis. Dengan adanya wadah ini, setidaknya bisa saling berbagi dan saling menguatkan daya tawar. (ADV)