Advertisement

BPBD Tanamkan Budaya Sadar Bencana untuk Warga di Kawasan Rawan

Lugas Subarkah
Jum'at, 28 Mei 2021 - 06:27 WIB
Yudhi Kusdiyanto
BPBD Tanamkan Budaya Sadar Bencana untuk Warga di Kawasan Rawan Foto ilustrasi. - Antara Foto

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Tepat 15 tahun lalu, sebagian besar wilayah DIY dilanda gempa berkekuatan 5,9 skala Richter yang meluluhlantakkan ribuan rumah. Belajar dari peristiwa itu, Badan penanggulangan Bencana (BPBD) Sleman kembali mengingatkan tiga kapanewon di Sleman yang masuk dalam Sesar Opak, untuk selalu siaga.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Joko Lelono menjelaskan tiga kapanewon yang masuk dalam Sesar Opak yakni Prambanan, Kalasan dan Berbah. Ketiga kapanewon ini pula yang terdampak cukup parah pada gempa 2006 silam.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Di luar itu ada kerusakan tetapi tidak terlalu parah. Setelah gempa terjadi kami membuat peta amplifikasi gempa di Sleman, dan yang muncul menjadi wilayah merah [rawan] Prambanan, Kalasan dan Berbah,” ujarnya saat ditemui, Kamis (27/5/2021).

Sesar Opak merupakan patahan pada batuan yang terbentuk akibat adanya gaya yang berasal dari dalam bumi seperti gaya tektonik maupun vulkanik yang berada di sekitar Sungai Opak di wilayah DIY. Wilayah yang dilalui Sesar Opak memiliki potensi gempa yang lebih besar.

Menurutnya, salah satu faktor yang memicu banyaknya rumah yang ambruk pada gempa 2006 yakni kekuatan gempa yang besar. Selain itu, banyak struktur bangunan yang belum dirancang tahan gempa, sehingga lebih mudah terdampak saat terjadi gempa.

BPBD Sleman, menurut Joko, telah menyosialisasikan kepada masyarakat khususnya di tiga kapanewon tersebut untuk selalu waspada dan lebih peduli pada kondisi di sekitarnya.

Konsep kami adalah menanamkan budaya sadar bencana. Jadi harapannya dengan budaya sadar bencana, perilakunya lewat pengurangan risiko. Kalau merasa terancam dan berbuat untuk mengantisipasi, otomatis akan melakukan kegiatan pengurangan risiko,” katanya.

Saat ini di ketiga kapanewon tersebut sudah terbentuk Kalurahan Tangguh Bencana. Meski bencana gempa saat ini belum ada sistem peringatan dini, dengan kesiap-siagaan masyarakat diharapkan mampu mengurangi risiko yang terjadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Banjir Kritik dan Kepala BRIN Didesak Mundur, Megawati Minta Jalan Terus!

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 14:47 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Kampung Batik Giriloyo yang Sempat Terpuruk Karena Gempa 2006

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement