Membaca Ulang Karya Arifin C Noer, Pembaharu Dunia Teater

Kedua dari kiri ke kanan, Indra Tranggono, Nur Iswantara, Chairul Anwar, Erlina Rakhmawati, dan Mustofa W Hasyim dalam acara diskusi Membaca Karya Arifin C Noer di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (28/5). (Harian Jogja - Sirojul Khafid)
29 Mei 2021 07:57 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Dalam tradisi teater modern, Arifin C Noer salah satu sosok yang berpengaruh. Menurut pemerhati budaya, Indra Tranggono, meski namanya tidak sering terbahas seperti W.S Rendra dan Putu Wijaya, Arifin C Noer merupakan sosok penting. 

Belakangan, saat riset dalam penulisan naskah drama mulai populer, Arifin C Noer sudah melakukannya di era 1970-1980-an. “Arifin C Noer sudah lakukan lama terkait riset. Gagasan lakon Umang-Umang merupakan hasil dari membaca satu teks karya ilmiah doktor asal Amerika Serikat. Teks itu tentang manusia yang bisa hidup lama jika konsumsi zat tertantu,” kata Indra pada acara diskusi Membaca Karya Arifin C Noer di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (28/5).

Indra menyebut kalimat Arifin dalam karyanya juga bukan sekadar bahasa komunikasi, namun sudah sebagai aktor itu sendiri yang bermain di kepala pembacanya. Ada kesegaran dalam lelucon, namun juga kecerdasan yang bertabur dalam bentuk satire dan lainnya.

“Karya Arifin punya kekuatan ide. Ide sangat penting karena itu tesis terhadap realitas. Hampir semua tokohnya cerdas Kekuatan lain Arifin yaitu kekuatan naratif. Dia mampu mewujudkan ide ke dalam kisah,” kata Indra.

Arifin C Noer, lahir di Cirebon pada 10 Maret 1941 ini mulai terjun di dunia teater saat Sekolah Menengah Atas di Solo. Dia mengikuti sebuah komunitas teater sampai kuliah di Universitas Cokroaminoto di Jogja. Saat di Jogja, kehidupan teaternya berlanjut dengan bergabung bersama Teater Muslim arahan Diponegoro pada 1960-an. Beberapa karya Arifin terinspirasi dari kehidupan Jogja yang dia lihat sehari-hari, termasuk kehidupan masyarakat pinggiran. Pada 1972-1973, Arifin juga sempat belajar menulis di Amerika Serikat.

Selain kehidupan di Solo dan Jogja, menurut akademisi teater Chairul Anwar, wawasan teater Arifin juga terbentuk saat berada di Jakarta, khususnya dalam kegiatannya di Taman Ismail Marzuki. Pada masa itu, sedang gencar menerjemahkan karya luar negeri yang kemudian diadaptasi menjadi naskah teater di Indonesia.

“Fenomena kebaruan yang ada waktu itu sangat dinamis dan luar biasanya. Makanya lahir kebaruan itu,” kata Chairul.

Pengaruh ini sepertinya cukup berdampak pada karya Arifin. Untuk bisa lebih utuh menikmati karya Arifin, perlu analisis dari sisi teks, konteks, dan intertekstual. Setiap karya Arifin tidak bisa lepas dari kondisi dia ruang dan waktu saat dia menciptakan. Dan tidak bisa lepas pula dalam pertentangan batin Arifin.

“Bagaimana membaca Mega-Mega apalagi Kapai-Kapai, akan sulit kalau tidak mengetahui pergulatan Arifin antara teater atau drama dari barat dan tradisional,” kata Chairul.

 

Isu Perempuan

Tidak hanya pembaruan, karya Arifin juga syarat dengan isu-isu perempuan. Menurut penulis lakon Erlina Rakhmawati, karakter-karakter perempuan di karya Arifin seringkali hebat, tangguh, cerdas, dan sejenisnya.

“Saya melihat Arifin sering mengangkat tokoh perempuan marginal. Dalam Kapai-Kapai ada Iyem, dalam Mega-Mega ada Mae dan juga Retno,” kata Erlina.

Dalam cerita tersebut, karakter perempuan bisa memiliki kekuatan di lingkungannya masing-masing. Untuk semakin mengingat semangat kesetaraan yang Arifin sebar ini, perlu adanya tafsir terkini apabila ingin kembali mengangkat karya Arifin.

Bagi pengamat teater Mustofa W Hasyim, kecerdasan Arifin tidak lepas dari tempat kelahiran dan juga sekolahnya. Cirebon yang berada di antara Sunda dan Jawa memiliki karakter tersendiri.

Pengamat teater Nur Iswantara mengatakan, saat kuliah di Jogja berpengaruh besar pada Arifin, terutama Teater Muslim yang dia ikuti. Kala itu Teater Muslim memiliki fokus seni untuk dakwah. “Jogja sebagai episentrum kreativitas teater sangat berpengaruh luar biasa [pada Arifin],” kata Iswantara. (ADV)