DPRD Bantul Wanti-wanti Retribusi Parangtritis Jangan Turunkan PAD
DPRD Bantul ingatkan pengelolaan retribusi Parangtritis oleh kalurahan harus optimal agar tidak menurunkan PAD sektor pariwisata.
Ilustrasi./Freepik
Harianjogja.com, JOGJA - Pengamat pariwisata Universitas Sanata Dharma, Ike Janita Dewi mengatakan, rentetan kejadian soal pelayanan dan hal-hal negatif di dunia pariwisata Jogja baru-baru ini sebenarnya bukan persoalan baru. Insiden itu sebenarnya merupakan problem lama dan kembali muncul ke permukaan belakangan ini. Pemegang otoritas disebut dia mesti mengambil strategi dan tidak menganggap sepele persoalan itu.
Dia menekankanbeberapa persoalan yang diprotes wisatawan itu merupakan hal teknis yang kadang dianggap tidak terlalu penting oleh pengelola dan otoritas pariwisata. Padahal, hal-hal teknis semacam itu menurut dia merupakan bagian yang perlu diperhatikan sedetail mungkin agar tidak berbuntut negatif.
BACA JUGA : Parkir Nuthuk Rp20.000 di Kota Jogja, Kadishub: Penindakan Bukan Kewenangan Kami
"Sebenarnya itu problem lama dan bukan hal baru lagi ya. Dan saya menganggap bahwa kita masih banyak menganggap bahwa hal teknis yang kelihatan sepele ini kurang perlu tapi dampaknya sewaktu-waktu besar," imbuhnya, Selasa (1/6/2021).
Selain itu, dia berpendapat bahwa era sosial media menjadikan persoalan itu seperti besar hingga berujung viral. Mestinya, ada perbaikan strategi dan manajemen konflik yang terpadu serta holistik agar insiden seperti itu tidak lagi terjadi.
"Selain perbaikan produk mesti juga punya strategi pemasaran media sosial atau digital marketing yang tepat. Kelihatannya kita kan masih agak gagap dengan hal itu," ujarnya.
Di sisi lain, pemangku kepentingan juga tidak bisa mengatasi persoalan dengan cara-cara lama. Sebab, perilaku konsumen dan tren pariwisata saat ini sudah sangat berubah. Sehingga perlu cara-cara baru dalam mengatasi persoalan wisatawan itu.
"Tentu responsnya tidak bisa dengan cara-cara lama. Harus ada keinginan untuk berbenah," katanya.
Pemerintah dan juga pengelola disebut dia jangan beralasan bahwa pengawasan, sistem dan pengelolaan sudah dilakukan dengan optimal. Pembenaran yang terlalu berlebihan menurut dia juga kurang baik. Maka itu, diperlukan kontra narasi yang sesuai serta relevan untuk membangkitkan kembali citra pariwisata yang sedikit banyak pasti terdampak akibat kejadian protes itu.
BACA JUGA : Ada Parkir Nuthuk Rp20.000 di Kota Jogja, Begini Respons Forum Jukir
"Memang selama ini kita kan selalu ada alasan dan juga pembenaran. Lebih baik dihadapi dan beri solusi, mestinya sudah ada antisipasi. Dan perlu juga ada upaya mengonter narasi negatif itu dengan hal yang positif di media sosial dengan komunikasi yang baik. Karena pasti ada yang mengambil kesempatan terhadap isu dengan menimbulkan hoaks dan sesuatu yang berlebihan," ucapnya.
Ia menyarankan agar ada regulasi terkait dengan hal teknis. Konsep besar tidak akan bertahan jika hal teknis yang kerap dianggap sepele dilupakan. Tak hanya itu, memaksimalkan peran dari institusi terkait perlu pula dilakukan. Hal ini guna memastikan bahwa pengelolaan serta manajemen yang dilakukan berjalan optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Bantul ingatkan pengelolaan retribusi Parangtritis oleh kalurahan harus optimal agar tidak menurunkan PAD sektor pariwisata.
Rangkuman 10 berita terpopuler Jogja hari ini, dari kebijakan Sultan, kekeringan Gunungkidul, hingga Messi hattrick di Piala Dunia 2026.
Jadwal SIM keliling Jogja 18 Juni 2026 lengkap, termasuk drive thru dan layanan malam, praktis tanpa antre panjang.
Jadwal SIM keliling Sleman 18 Juni 2026 lengkap, termasuk Simeru dan Satpas, praktis tanpa antre panjang.
Jadwal DAMRI Jogja ke YIA Juni 2026 lengkap, tarif Rp80 ribu, rute langsung tanpa transit dan praktis.
Jadwal SIM keliling Gunungkidul 18 Juni 2026 lengkap, dari SIMMADE hingga layanan malam, praktis dan tanpa antre panjang.