Pasien Covid-19 Dimakamkan Tanpa Prokes, Warga Srandakan Mengaku Dibohongi Pihak Keluarga

Foto ilustrasi pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni membungkusnya menggunakan plastik. - Ist/FOTO ANTARA
04 Juni 2021 13:57 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Sebanyak 28 warga kampung Mayongan, Trimurti, Srandakan, Bantul harus menjalani swab PCR.

Swab dilakukan menyusul aksi pemakaman salah satu warga di RT 114 Kampung Mayongan, Trimurti yang tanpa menerapkan protokol kesehatan, 24 Mei lalu.

Ketua RT 114, Kampung Mayongan, Fajar Zainudin mengaku warga di wilayahnya merasa dibohongi oleh keluarga dari jenazah positif Covid-19.

Sebab, keluarga menyembunyikan status dari jenazah tersebut. Padahal, jenazah yang dimakamkan tersebut adalah suspek Covid-19.

"Jadi meninggalnya pada 23 Mei, saya sempat menanyakan keluarga apakah itu suspek Covid-19 atau tidak? Dan dijawab tidak. Tapi, tanggal 28 Mei tiba-tiba ada surat yang menyatakan jika jenazah tersebut positif Covid-19," terangnya, Jumat (4/6/2021).

Oleh karena itu, Fajar menyatakan membantah informasi yang berkembang jika warga menolak pemakaman jenazah Covid-19 dengan protokol kesehatan. Jika keluarga jujur jika jenazah adalah suspek Covid-19, warga tetap meminta agar dimakamkan dengan protokol kesehatan.

"Orang sebelumnya, beberapa bulan lalu, pernah ada jenazah positif Covid-19 dari kampung sini. Dan dimakamkan dengan protokol kesehatan," jelas Fajar.

Fajar mengungkapkan, saat jenazah yang dimakamkan pada 24 Mei lalu datang, tidak menggunakan ambulans dari RSUP Sardjito-lokasi dirawatnya pasien Covid-19.

"Namun, keluarga memilih menggunakan ambulans sendiri. Selain itu, jenazah juga tidak dipeti tapi dibungkus plastik," lanjutnya.

Melihat kondisi jenazah dan berdasarkan keterangan dari keluarga, papar Fajar, warga pun kemudian mengumumkan melalui pengeras suara di masjid agar warga berkumpul untuk memberikan bantuan kepada keluarga yang berduka.

BACA JUGA: Indonesia Bakal Ada Hari Berkebaya Nasional

"Termasuk memandikan jenazah dan memakamkannya. Jadi kami dibohongi oleh keluarganya," terang Fajar.

Akibat adanya pemakaman tanpa protokol kesehatan tersebut, Fajar mengungkapkan, warga di wilayahnya harus menjalani swab PCR. Swab pertama diikuti 8 orang yang terdiri dari keluarga jenazah positif Covid-19.

"Hasilnya 5 positif. 3 negatif. Itu yang positif semua keluarga jenazah. Swab kedua, 1 orang yang mengikuti, swab ketiga ada 6 orang yang mengikuti. Dan hari ini, ada 13 mengikuti swab. Sejauh ini baru 5 orang yang positif. Lainnya, untuk swab kedua sampai hari ini belum diketahui hasilnya," ungkap Fajar.

Untuk lima orang keluarga jenazah, lebih lanjut Fajar menyatakan sampai saat ini masih menjalani isolasi di selter milik Pemkab Bantul di Niten. Sehingga sampai saat ini, warga juga belum bisa berkomunikasi dengan keluarga jenazah.

"Setelah diketahui jika hasil menyatakan jenazah positif Covid-19, kami juga telah melakukan penyemprotan disinfektan di rumah mereka [tempat pemulasaran]," jelas Fajar.