Belasan Kapanewon di Sleman Berstatus Zona Merah Covid-19, Ini Datanya

Ilustrasi. - Freepik
04 Juni 2021 06:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Meski tak ada kalurahan yang berstatus zona merah, namun terdapat 13 kapanewon yang tingkat penularan Covid-19 masih tergolong tinggi (zona merah). Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman kembali mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kembali protokol kesehatan (Prokes).

Berdasarkan peta epidemologi Covid-19 per akhir Mei lalu, saat ini tidak ada kelurahan di Sleman yang berstatus zona merah. Jumlah kalurahan yang masuk zona oranye masih sama dengan sebelumnya yakni sembilan kalurahan. Hanya bergeser beberapa kalurahan saja.

Saat ini, kalurahan yang masuk dalam zona oranye meliputi Kalurahan Ambarketawang, Balecatur (Gamping), Caturtunggal (Depok), Caturharjo (Sleman), Sidoagung, Sidomoyo (Godean), Sariharjo (Ngaglik), Sumberrejo (Tempel), dan Umbulmartani, Widodomartani (Ngemplak).

BACA JUGA : Data Terbaru Covid-19 di Sleman: 2 Kapanewon Zona Merah 

Adapun kalurahan yang masuk zona hijau menurun drastis. Pada peta epidemologi Covid-19 per 23 Mei disebutkan 14 kalurahan masuk zona hijau. Namun saat ini hanya delapan kalurahan yang masuk zona hijau. Meliputi Kalurahan Wukirsari, Glagaharjo (Cangkringan), Tamanmartani (Kalasan), Sendangmulyo, Sendangarum (Minggir), Bimomartani (Ngemplak), Pakembinangun (Pakem), Pondokrejo (Tempel), Girikerto, Wonokerto (Turi), Gayamharjo dan Wukirharjo (Prambanan).

Sedangkan 69 Kalurahan sisanya masuk zona kuning. Jumlah kalurahan zona kuning meningkat sebanyak tiga kalurahan dibandingkan sebelumnya 63 kalurahan. "Peta epidemologi Covid-19 untuk tingkat kalurahan ini didasarkan pada modifikasi metode PPKM Mikro. Berbeda dengan metode Rt [angka reproduksi efektif]," kata Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo, Kamis (3/6/2021).

Meski mengakui metode modifikasi PPKM Mikro kurang ilmiah, namun Dinkes tetap menggunakan sebagai pegangan. Metode ini berbeda dengan metode Rf yang masih digunakan hingga tingkat kapanewon. Metode ini, kata Joko, menggunakan rumus dengan tiga variabel: kasus baru, MD dan kasus sembuh.

BACA JUGA : Dua Objek Wisata di Jogja Ditutup karena Zona Merah

"Sampai tingkat Kapanewon masih pakai [metode] Rt. Untuk tingkat kalurahan seharusnya bisa dengan metode Rt, tetapi Puskesmas lebih fokus ke 3 T dan vaksinasi sehingga tidak ada yang menghendel data secara khusus," papar Joko.

Berdasarkan peta epidemiologi per 2 Juni (metode Rf) untuk tingkat kapanewon sebanyak 13 kapanewon masuk zona merah. Meliputi Kapanewon Gamping, Godean, Moyudan, Minggir, Seyegan, Mlati, Depok, dan Berbah. Selain itu, Kapanewon Ngempak, Ngaglik, Sleman, Tempel dan Cangkringan.

"Cangkringan yang sebelumnya masuk zona hijau saat ini masuk zona merah. Ya pemetaan ini dinamis tergantung dari kejadian tingkat penularan Covid-19," katanya.

Kapanewon Kalasan menjadi satu-satunya kapanewon zona oranye dan tiga kapanewon zona kuning meliputi Prambanan, Turi dan Pakem. "Lonjakan kasus baru terjadi pada awal Juni, di atas 100 kasus baru, tepatnya 106 kasus. Selama Mei kasus baru di atas 100 kasus hanya terjadi lima kali. Selebihnya di bawah 100 kasus," katanya.

BACA JUGA : RT Zona Merah di Sleman Bertambah, Ini Daftar Desanya

Juru Bicara Satgas Covid-19 Sleman Shavitri Nurmaladewi mengatakan untuk perkembangan kasus harian konfirmasi positif Covid-19 di Sleman per Kamis (3/6) bertambah 61 kasus baru terkonfirmasi, 40 kasus sembuh dan tiga kasus kematian.

Dengan penambahan kasus tersebut, maka total kasus terkonfirmasi positif di Sleman sebanyak 16.442 kasus, pasien sembuh 15.101 kasus dan pasien meninggal dunia 485 kasus. "Kami tetap ingatkan masyarakat untuk mematuhi prokes, pakai masker, cuci tangan, jaga jarak," katanya.