Insan Pariwisata Bagi-Bagi Pecel Lele di Malioboro, Berharap Kembalikan Citra Baik Jogja

Aksi bagi-bagi pecel lele yang dilakukan oleh insan pariwisata Jogja guna mengembalikan citra positif pariwisata setelah insiden negatif yang viral beberapa waktu lalu di media sosial. - Ist/dok
05 Juni 2021 00:17 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Insan peduli pariwisata Jogja mengadakan aksi bagi-bagi pecel lele kepada masyarakat dan pengunjung di kawasan Malioboro pada Kamis (3/6/2021). Sebanyak 100 bungkus pecel lele dibagikan pada kesempatan itu yang bertujuan untuk mengembalikan Citra positif dunia pariwisata Jogja.

Diaz Kaslina salah seorang peserta mengatakan, aksi ini merupakan wujud keprihatinan atas kondisi pelayanan wisata di Jogja. Mulai dari viralnya insiden pecel lele Malioboro yang nuthuk harga, jip wisata Merapi hingga tarif parkir di jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan.

Aksi bagi-bagi pecel lele ini sebagai simbol kepedulian terhadap citra wisata di wilayah setempat setelah beragam kasus negatif yang viral di media sosial. Harapannya ada aksi nyata dari pemerintah untuk mengangkat kembali citra wisata Jogja.

Baca juga: ISI Jogja Akan Gelar Perkuliahan Campuran

"Kami dan teman-teman sebagai warga Jogja prihatin atas kasus viral belakangan ini. Aksi ini sebagai promosi bahwa Jogja itu sebenarnya kota ramah wisata. Harusnya ini dilakukan oleh pemerintah," jelasnya.

Dia menilai langkah ini seharusnya menjadi bagian gerakan dari pemerintah. Tak cukup berhenti dengan mengekspos sanksi kepada oknum pedagang nakal. Namun harus ada upaya memperbaiki citra wisata di mata wisatawan yang lebih konkret.

Warga Jogja banyak yang prihatin atas permasalahan yang terjadi. Imbasnya adalah citra wisata Jogja di mata wisatawan memburuk. Hal itu bisa dilihat dari beragam komentar yang disampaikan di media sosial.

Baca juga: Pekan Depan, Pedagang Pasar di Sleman Mulai Diberi Vaksin Covid-19

"Hal ini adalah pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah untuk menaikan standar wisata di Jogja agar pelaku pariwista bisa mendapatkan kesejahteraan dari wisata," katanya.

Dia juga berpesan agar pedagang lesehan jujur. Dengan memasang daftar harga dan daftar menu di setiap warungnya. Selain itu juga menampilkan dengan bahasa yang jelas dan bisa dilihat oleh pengunjung. Tujuannya agar tidak ada kesalahan persepsi oleh pembeli.

"Berapapun harganya harus dipasang agar konsumen tidak kaget. Mungkin di lesehan dengan di ruko itu beda harga. Tapi paling penting daftar menu dan daftar harga harus ada," ujarnya.

Aksi bagi-bagi 100 pecel lele sendiri secara tidak langsung melibatkan pedagang lesehan di kawasan Malioboro. Ini karena seluruhnya dibeli dari pedagang di kawasan tersebut. Isinya berupa nasi pecel lele lengkap dengan sambal dan lalapan.

Ratusan bungkus pecel lele dalam kotak kardus itu dibagikan kepada pengunjung yang lewat. Pecel lele dibeli dengan harga beragam. Tepatnya dari harga Rp18.000 hingga Rp23.000.

"Tidak ada organisasi apapun di belakang aksi ini, bukan dari pedagang Malioboro juga. Tapi belinya memang dari pedagang lesehan Malioboro," katanya.