Petani Gunungkidul Mencoba Produktif di Musim Kemarau

Aktivitas pertanian di Padukuhan Candi, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen. - Ist/dok
07 Juni 2021 09:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mertani di Padukuhan Candi, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, tetap mencoba produktif meski tengah menghadapi musim kemarau saat ini.

Ketua Gapoktan Mertani, Sukirno mengatakan di wilayahnya ada 30 hektare lahan pertanian yang masih bertahan di musim kemarau tahun ini. 17 hektare diantaranya ditanami padi jenis hibrida varietas Mapan 05 dan Supadi 56.

“Pada musim kedua ini menghasilkan ubinan 7,26 kg gabah kering panen (GKP), atau setara dengan 11,6 ton GKP. Per hektarenya mampu menghasilkan 9,4 ton Gabah Kering Giling [GKG],” kata Sukirno, Minggu (6/6/2021).

Baca juga: Pemda DIY Diminta Rangkul UMKM yang Baru Muncul dan Berkembang

Dia mengatakan dari hasil panen itu, petani dapat menjual gabah panenan dengan harga Rp4.200 per kilogram. Dia mengatakan selama penanaman hibrida bekerjasama dengan pengembangan Pertanian Keluarga (PK) atau Family Farmina. Itu adalah pengembangan usaha agribisnis pertanian skala keluarga.

Sukirno mengungkapkan lahan pertanian tersebut setelah panen kedua ini akan dihentikan sementara untuk tanam. Kemudian baru akan digunakan lagi untuk menanam tanaman hortikultura seperti melon maupun jenis lain. Belajar dari tahun lalu, saat petani mencoba menanam melon, dengan pinjaman permodalan, ternyata mendapat hasil yang menguntungkan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengapresiasi para petani yang masih dapat bertahan di tengah musim kemarau. “Harapannya sektor pertanian tetap unggul dalam kondisi apapun,” ucap Bambang.

Berkaitan dengan data panenan di musim kedua dengan kondisi sulitnya mendapat air, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul tengah melakukan pendataan berapa capaian panen para petani. Termasuk dampak kekeringan apakah membuat petani sulit untuk panen maupun mengalami gagal panen atau masih bisa bertahan.