Pendidikan Jadi Kunci Atasi Bencana

Dosen Geologi UGM Didit Hadi Bariyanto saat menjadi pembicara Pembinaan Pemuda Kalurahan di DIY tentang Penanggulangan Bencana di Kabupaten Gunungkidul yang diselenggarakan BPBD DIY di Rumah Makan Tan Tlogo, di Kapanewon Semanu, Jumat (11/6/2021). - Harian Jogja/David Kurniawan
11 Juni 2021 19:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Edukasi tentang masalah bencana merupakan faktor penting untuk mengurangi risiko pada saat terjadi bencana. Hal ini disampaikan oleh dosen Geologi UGM, Didit Hadi Bariyanto, saat menjadi pembicara Pembinaan Pemuda Kalurahan di DIY tentang Penanggulangan Bencana di Kabupaten Gunungkidul yang diselenggarakan BPBD DIY di Rumah Makan Tan Tlogo, di Kapanewon Semanu, Jumat (11/6/2021).

“Pendidikan bisa menjadi kunci dalam upaya mitigasi karena dengan memberikan edukasi ke masyarakat maka pemahaman tentang kebencanaan akan semakin baik,” katanya, Jumat siang.

Didit mengungkapkan, secara geografis wilayah Indonesia masuk sebagai wilayah yang rawan terjadi bencana mulai dari gempa bumi, gunung berapi, longsor hingga tsunami. Hal ini tak lepas adanya empat lempeng besar yang mengapit wilayah Nusantara.

Menurut dia, kondisi ini yang harus disadari karena lokasi yang ditinggali merupakan rumah dari bencana. Oleh karenanya, harus ada sinergi dan bersahabat dengan alam. Salah satunya dengan sosialisasi pendidikan tentang masalah kebencanaan.

Didit mencontohkan kerawanan bencana salah satunya gempa bumi. Bencana ini tidak ada yang tahu dimana pusat dan kapan kejadian akan terjadi. Meski demikian, gempa bumi merupakan satu siklus yang akan terjadi dalam retang waktu tertentu. “Kalau di Jepang siklusnya empat tahun sekali terjadi gempa. Sedangkan di DIY sekitar 60 tahun sekali akan terjadi gempa besar,” ungkapnya.

Menurut dia, peristiwa gempa merupakan fenomena alam yang terus berulang. Namun demikian, kejadian ini dapat menimbulkan korban apabila tidak dilakukan antisipasi. “Gempa besar di 1886 atau 1943 korbannya tidak banyak korban jiwa. Tapi berbeda dengan 2006 yang menyebabkan ribuan orang menjadi korban,” katanya.

Didit mengungkapkan, dari tiga peristiwa ini bisa diambil pelajaran karena sama-sama terjadi gempa namun dampaknya terjadi perbedaan yang signifikan. “Ternyata bukan gempa yang menjadi penyebab, tapi karena bangunan runtuh yang menimpa warga sehingga  mengakibatkan korban jiwa,” tuturnya.

Berkaca dari kejadian ini, untuk upaya mitigasi perlu belajar dari Jepang. Menurut dia, di Negeri Sakura anak-anak kecil sudah diberikan pengetahuan tentang masalah bencana. Selain itu, rumah-rumah yang dibangun hanya terdiri dari dua. Yakni, bangunan tahan gempa dan rumah yang terbuat dari kayu. “Sebenarnya kita memiliki teknologi rumah tahan gempa seperti model tempat tinggal ternak, tapi tidak digunakan karena lebih memilih membuat rumah dengan model tembok,” katanya.

Didit pun berharap kepada masyarakat untuk terus belajar dari sejarah berkait dengan masalah kebencanaan. Pasalnya, peristiwa tersebut akan memberikan pelajaran yang sangat berharga dalam upaya mitigasi kebencanaan. “Pepatah bijak mengatakan jika tidak pernah belajar dari sejarah, maka akan terkutuk dengan kesalahan yang sama,” tuturnya.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, didalam sosilisasi kebencanaan ini menghadirkan generasi muda dari sejumlah kelurahan di Gunungkidul. Ia berharap kegiatan ini bisa menambah wawasan bagi peserta khususnya menyangkut masalah kebencanaan.

“Setelah paham, kami  berharap kepada peserta untuk menjadi peserta dalam upaya pengurangan risiko bencana di wilayah masing-masing,” katanya. (***)