Disbud DIY Tampilkan Kidung Wahyu Talang Kencono di Srimulyo

Suasana pembacaan macapat yang diselenggarakan oleh Disbud DIY di Pendopo Cakrajayan, Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Bantul, Jumat (18/6) malam. - Harian Jogja/Yosef Leon
20 Juni 2021 18:27 WIB Media Digital Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY menggelar macapatan rutin di pendopo Cakrajayan, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Jumat (18/6/2021) malam. Dalam kesempatan itu, Kidung Wahyu Talang Kencono yang disadur oleh Mas Bekel Dwijasetyoprasojo dari puisi berjudul Kidung Wahyu Talang Kencana gubahan Akhmad Fikri AF ditampilkan.

Filolog Disbud DIY, Setya Amrih Prasaja mengatakan, gelaran macapat ini bertujuan untuk menggali seni tradisi tutur atau lisan masyarakat Jawa. Macapat yang ditampilkan dengan syair dan tembang ini disebut dia menjadi salah satu upaya untuk memunculkan kembali cerita-cerita rakyat di masa lalu.

Amrih menjelaskan, macapat yang ditampilkan pada kesempatan itu sangat lekat dengan sebuah cerita rakyat yang konon kerap diketahui oleh masyarakat Srimulyo sebagai sebuah mitos. Secara harafiah, Talang Kencono bisa diartikan sebagai jalan emas. Emas yang dimaksud adalah terkait dengan sumber mata air yang sangat berguna untuk kelangsungan hidup manusia.

"Talang itu kan jalan dan kencono itu emas. Emas lebih mengarah kepada sesuatu yang sangat berharga bagi manusia yakni air. Jadi dalam macapat itu diceritakan bahwa mitologi Talang Kencono itu berawal dari Nglanggeran yang di dalamnya ada sumber air dan air itu mengalir ke berbagai tempat yang bisa digunakan oleh masyarakat sekitar," jelasnya.

Secara filosofis, nilai yang terkandung dalam macapat itu adalah mengajak masyarakat untuk menjaga sumber air itu. Menjaga kelestarian alam dan keseimbangan lingkungan menjadi kewajiban jika tidak ingin sumber air yang menjadi kebutuhan penting manusia itu lenyap tak bersisa.

"Karena kerusakan vegetasi tanaman juga bakal berimbas pada kondisi air di sekitarnya," ucapnya.

Akhmad Fikri yang hadir dalam kesempatan itu mengungkapkan, monografi Talang Kencono itu banyak diketahui oleh para tetua di desa setempat. Dia mewawancarai sejumlah orang dan menemui banyak pihak dalam proses menggubah monografi tersebut.

"Kita berharap agar kearifan lokal seperti cerita lisan ini tidak hilang. Jika kita memelihara ini akan sangat banyak manfaatnya untuk warisan dari generasi ke generasi," katanya.