Jaga Tata Nilai Budaya, Disbud DIY Gelar Sinau Bareng

Kegiatan Sinau Bareng Tata Nilai Budaya DIY yang digelar di Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kamis (24/6/2021). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
24 Juni 2021 19:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Dinas Kebudayaan (Khunda Budaya) DIY menggelar kegiatan Sinau Bareng Tata Nilai Budaya DIY. Gelaran ini dilakukan untuk melihat sejauh mana 14 tata nilai budaya DIY masih melekat di masyarakat.

Tahun ini, kata Plt Kepala Dinas Kebudayaan (Khunda Budaya) DIY  Aris Eko Nugroho terdapat tujuh kalurahan yang menjadi sasaran kegiatan ini. Dua kalurahan masing-masing berada di wilayah Sleman dan tiga kalurahan lainnya di Bantul, Kulonprogo dan Kota Jogja. "Kami gelar kegiatan ini untuk mengetahui sejauh mana 14 tata nilai budaya masih hidup di masyarakat," kata Aris, Kamis (24/6). 

Paniradya Pati DI Yogyakarta ini mengatakan, kegiatan yang sama juga digelar pada tahun lalu. Hanya saja jumlah sasarannya berbeda. Jika tahun lalu hanya tiga kalurahan baik di Pandowoharjo (Sleman), Petir (Gunungkidul) maupun Kricak (Kota Jogja). Tahun ini, lanjut Aris, kegiatan yang sama digelar di Wedomartani dan Girikerto (Sleman), Pajangan (Bantul), Wates (Kulonprogo), Wunung Giri (Gunungkidul) dan Soryodiningratan (Kota Jogja). 

"Jadi kami pilah tiga kategori, kalurahan yang berada di perkotaan, kalurahan yang berada di antara desa dengan kota dan kalurahan yang benar-benar jauh dari perkotaan," papar Aris.

Kegiatan pertama digelar di Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak. Kegiatan ini digelar dengan model baru. Disbud melibatkan para pemangku kebijakan, para sesepuh dan pamong kalurahan. Mereka yang hadir mengungkapkan apa saja nilai-nilai kebudayaan yang masih dilakukan masyarakat. 

Perbedaannya tahun kemarin dengan tahun ini, kata Aris, jika tahun lalu kegiatannya lebih ke arah ceramah, memberikan informasi 14 tata nilai budaya DIY maka metodenya tahun ini dibedakan. "Kami justru yang belajar, menggali tata nilai budaya apa saja yang dilakukan oleh masyarakat. Yang masih dijalankan. Oleh karenanya kami menggali informasi tersebut dengan melibatkan masyarakat," katanya.

Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Tak Benda Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY Sri Wahyuni menambahkan Sinau Bareng Tata Nilai Budaya DIY yang disajikan tahun ini merupakan hasil evaluasi kegiatan tahun sebelumnya. Dengan cara menggali informasi dari masing-masing warga, katanya, Disbud ingin mengajak semua pihak untuk mengidentifikasi sendiri tata nilai kebudayaan yang masih ada. 

Tata nilai budaya yang dimaksud seperti gotong royong, adat dan tradisi, unggah ungguh, toleransi dan lainnya digali dalam kehidupan masyarakat. Apalah tata nilai tersebut masih hidup dan dilakukan masyarakat atau tidak. Misalnya, bagaimana warga mengelola hubungan antarwarga yang berbeda keyakinan hingga hubungan sosial antara warga asli dengan pendatang.

"Semua peserta kami tanyakan, kami minta untuk bercerita mengenai kondisi di wilayahnya. Kemudian kami croschek langsung dengan warga lainnya. Dengan model seperti ini, masyarakat bisa saling mengisi dan memahami," katanya. 

Yuni menjelaskan, hingga tahun kedua kegiatan ini secara umum 14 tata nilai kebudayaan DIY masih melekat di masyarakat. Mereka masih memegang teguh tata nilai yang ada. Hal itu terjadi di masyarakat semi perkotaan dan pedesaan. "Nah untuk yang masyarakat perkotaan coba kami gali juga nanti bagaimana kondisinya. Yang jelas sampai saat ini masyarakat DIY masih memegang teguh tata nilai tersebut," katanya. 

Hasil kegiatan ini, lanjut Yuni, Disbud nantinya akan menentukan kebijakan apa yang perlu dilakukan ke depan. Dia berharap tata nilai budaya tersebut tetap dilestarikan dan dijaga betul oleh masyarakat. (***)