Dolanan Anak Jogja, Setia Ngopeni dan Langgengkan Dolanan Anak

Komunitas DAJ saat mengenalkan dolanan anak sebelum pandemi melanda. - Istimewa
27 Juni 2021 05:47 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJASeiring berkembangnya zaman, sejumlah warisan dan kekayaan luhur budaya nusantara mulai banyak ditinggalkan, tak terkecuali permainan tradisional anak. Namun, ada satu komunitas yang berupaya menjaga agar permainan tradisional tetap eksis yakni Dolanan Anak Jogja (DAJ). Berikut laporan wartawan Harian Jogja Yosef Leon.

Pandangan Isa Anggit Prasetya, 29, seakan-akan menerawang jauh. Ia coba mengingat kembali masa kanak-kanaknya dulu. Memorinya coba menggapai kembali tentang kebahagiaan saat menjalani masa kecil yang penuh kegembiraan. Masa-masa belum mengenal gawai, kumpul bersama rekan sebaya dan bebas berekspresi tanpa diam terpaku di depan layar laiknya anak kekinian.

Kesadaran itu yang jadi spiritnya dan memutuskan untuk terjun dan bergiat dalam permainan tradisional anak. Selain senang dengan anak-anak, fenomena permainan anak kiwari juga menjadi salah satu pemicu ia ingin melestarikan permainan tradisional anak.

Setelah keluar dari pekerjaannya pada 2017, Isa coba merangkul teman-temannya dan mengajak mereka membuat suatu komunitas yang bergelut di dunia permainan tradisional anak. Gayung bersambut, pertengahan 2017 DAJ terbentuk dan mulai eksis di beberapa pameran dan berbagai acara sampai saat ini.

"Idenya sebenarnya sudah ada sejak 2014. Ingin bentuk komunitas atau semacam kelompok untuk melestarikan permainan tradisional anak," jelasnya, Senin (14/6).

Awal-awal terbentuk, DAJ pernah mencoba mendekati sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mengajak berkolaborasi dalam beberapa kegiatan. Ajakan itu tak digubris. Tak patah arang, mereka lantas memutar otak serta merangkul sumber-sumber lain untuk berkegiatan. "Bisa dikatakan ini swadaya. Pendanaannya bersumber dari beberapa donatur dan juga penjualan beberapa alat permainan saat kami pameran," ujarnya.

Terkadang, ada pula beberapa syarat yang diberikan oleh OPD yang tidak mereka setujui sehingga kerja sama urung terlaksana. "Misalnya mereka minta agar embel-embel DAJ itu enggak usah dibawa saat acara. Jelas kami tidak mau," ujarnya.

Hanya saja semenjak pandemi Covid-19 melanda kegiatan dari komunitas ini otomatis berhenti. DAJ tidak ingin mengambil risiko. Sebab, permainan tradisional melibatkan anak-anak yang rentan terhadap penularan Covid-19. Selain itu, semua permainan juga mesti disentuh dan cukup sulit untuk kerap membersihkannya setelah selesai bermain.

"Sejak tahun lalu kami benar-benar off. Sebenarnya ada lima agenda yang akan kami ikuti, tapi karena pandemi itu dibatalkan semua," kata Isa.

Isa menjelaskan berbagai macam budaya dan warisan nusantara di masa lalu kaya akan nilai filosofis, termasuk pula permainan tradisional. Berbagai permainan itu jika ditilik lebih dalam banyak mengajarkan nilai-nilai moral dan juga kebijaksanaan dalam menjalani hidup.

Ia mencontohkan egrang. Permainan yang biasanya terbuat dari bambu atau kayu berbentuk panjang ini mempunyai nilai ajar kesabaran. Permainan ini juga mengajarkan nilai tentang pentingnya keseimbangan dalam menjalani hidup.

"Agar bisa menggunakannya dengan baik, si pemakai mesti menyelaraskan pikiran dan gerak. Kalau antara ayunan tangan dan kaki serta pikiran tidak selaras, pasti jatuh," jelasnya.

Menurut dia, permainan tradisional anak juga berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Permainan itu juga ada klasifikasinya berdasarkan usia. Namun secara umum, kerap digunakan oleh anak-anak usia SD hingga SMP. "Melatih motorik anak jelas sangat penting dan berguna kalau anak itu diberikan akses kepada permainan tradisional," ungkapnya.

Namun demikian, DAJ kadang kala cukup kesulitan jika sewaktu-waktu mengadakan pameran dan ingin mengenalkan anak kepada permainan tradisional. "Selama masih ada gawai pasti sulit. Tapi sebenarnya susah-susah gampang," katanya.

Tampak susah jika anak pertama kali melihat permainan itu. Peran orang tua juga kadang kala berdampak jika tak ingin anaknya menyentuh permainan tradisional. Namun, jika orang tua mengizinkan, kadang anak sekali menyentuh dan tahu memainkannya akan langsung asyik sendiri. "Ada yang kadang sampai minta permainannya dibawa pulang," ucap Isa.

Ada sejumlah tantangan yang kerap dihadapi oleh para pegiat DAJ saat di lapangan. Banyak masyarakat kadang masih memandang permainan tradisional anak sebagai sesuatu yang kuno dan cenderung Jawa-sentris. Padahal, banyak pula permainan yang berasal dari luar Jawa.

"Jadi yang menganggap permainan tradisional anak itu Jawa sentris memang masih banyak. [Padahal] Itu kan warisan nusantara.," ujarnya.

Beberapa permainan tradisional anak juga kerap bias gender. Misal permainan masak-memasak yang biasanya dianggap sebagai permainan anak perempuan. Kemudian egrang yang biasanya selalu dimainkan anak lelaki. "Hal-hal semacam itu masih ada di masyarakat. Itu yang coba kami ubah. Jadi sewaktu pameran tidak ada batas-batas seperti itu. Semua anak bisa memainkan berbagai permainan sesuai minat mereka," ungkapnya.