Pria Bangunjiwo Ini Raup Keuntungan Berkat Kaldu Tempe

Josh Handani - Harian Jogja/Jumali
27 Juni 2021 08:27 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTULTidak semua hal yang busuk harus dijauhi. Sesuatu yang busuk, di tangan orang yang tepat malah bisa bermanfaat. Salah satunya tempe busuk yang bikin makanan malah jadi kian lezat. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Jumali.

Di tangan Josh Handani, warga Gesik RT.3, Pedukuhan Kalipucang, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Bantul, makanan hasil fermentasi kedelai yang teksturnya telah berubah dan mengeluarkan jamur serta berbau busuk, justru diolah menjadi barang dengan nilai ekonomis tinggi. Ia mengolahnya menjadi kaldu tempe.

Di temui di kediamannya, beberapa waktu lalu, Josh mengungkapkan pemilihan tempe sebagai bahan baku pembuatan kaldu, bukan tanpa alasan. Selain karena ingin menghentikan ketergantungan penggunaan kaldu bungkus berbahan plastik sehari-hari saat mengolah makanan, ia juga melihat banyak pedagang tempe di sekitar ia tinggal, yang memilih membuang tempe busuk.

Josh yang waktu itu memproduksi olahan burger tempe, melihat tempe busuk sejatinya masih bisa diolah kembali menjadi barang bernilai ekonomi tinggi.

“Kok, sayang ya. Dari sanalah saya dan istri berpikiran membuat kaldu sendiri berbahan tempe,” katanya.

Josh pun memulai usahanya membuat kaldu tempe sekitar setengah tahun lalu. Berbekal isian burger tempe yang telah membusuk dari hasil makanan olahannya. Isian burger itu diolah menjadi kaldu tempe.

“Yang jelas, saat itu pikirannya, paling tidak kami sudah mulai mengurangi untuk tidak membeli kaldu. Dan untuk bumbu-bumbu sehari-hari pun kami pakai kaldu tempe ini," kata Josh.

Apalagi tempe busuk memiliki kandungan yang berkhasiat baik bagi kesehatan. Tempe busuk bisa mengatasi perut kembung, membantu meningkatkan sel darah merah, menambah nafsu makan, memperlancar metabolisme tubuh dan mengatasi infeksi serta meningkatkan kekebalan tubuh.

Seiring berjalannya waktu, banyak orang tertarik dengan kaldu tempe buatan Josh. Mereka tertarik dan menanyakan bumbu penyedap apa yang digunakan seusai merasakan olahan makanan Filiana Miladewi, istri Josh. Kepada mereka yang menanyakan, Josh pun akhirnya membeberkan rahasis jika olahan makanan tersebut menggunakan bumbu kaldu tempe produksinya. “Kemudian banyak yang pesan ke kami. Perlahan, kami mulai produksi. Kami kasih nama bumbu ibu,” ungkapnya.

Istri Josh, Filiana Miladewi mengungkapkan untuk membuat kaldu tempe tidak dibutuhkan bumbu khusus. Dia hanya menggunakan bawang merah, bawang putih, lada, pala, garam dan gula. Semua bumbu tersebut ditumbuk halus, setelah itu dicampur tempe. “Setelah itu ditumbuk lagi sampai halus,” jelasnya.

Khusus untuk tempe yang dijadikan bahan kaldu, Filiana pun mengakui jika tidak semua menggunakan tempe busuk. Dari satu kilogram tempe yang digunakan, komposisi tempe busuk hanya 700 gram.

“Untuk olahan yang telah ditumbuk halus tersebut, kemudian dipindah ke loyang yang telah dilumuri minyak kelapa dan dioven selama satu sampai dua jam,” ungkap Filiana yang memilih memproduksi kaldu tempe tiga hari sekali.

Filiana tak memasang harga tinggi untuk hasil karyanya itu. Setiap 100 gram kaldu dibanderol Rp40.000. Khusus pembeli yang membawa wadah sendiri, ada diskon senilai Rp10.000. “Kenapa kami kasih potongan harga untuk yang datang membawa bungkus sendiri? Karena kami ingin edukasi mengurangi sampah plastik sekali pakai,” jelasnya.

Sejauh ini, konsumen kaldu tempe produksinya rata-rata adalah warga lokal dari beberapa kota seperti Jogja, Bali, dan Jakarta. Namun, ada pula beberapa ekspatriat menjadi pelanggan kaldu tempe bikinannya. Adapun untuk pemasaran, Filiana memilih memanfaatkan pemasaran online maupun offline. “Jika lewat online, kami gunakan Instagram dengan akun @rumahinsprirasijogja.rumijo dan di FB [Facebook] Rumah Inspirasi Jogja [Rumijo],” jelasnya.

Penggunaan nama Rumijo punya latar historis. Sejak 2011, ia bersama dengan suami telah mendirikan yayasan bernama Rumah Inspirasi Jogja (Rumijo) Eco Indonesia. Sejak yayasan berdiri, Filiana bertekad menerapkan dan menularkan prinsip hidup tanpa plastik. “Jika pun terpaksa menggunakan plastik, kami akan gunakan bahan pakai ulang,” katanya.

Plastik kemasan pembungkus produk, jelas Filiana, akan menambah beban Bumi atas sampah plastik yang mengancam lingkungan. Terlebih lagi jika sampai dibakar, asap sampah plastik bakal menghasilkan dioksida berbahaya bagi kehidupan. “Untuk itu, kami berkreasi menghasilkan produk-produk sendiri seperti pasta gigi, sabun mandi dan kaldu tempe ini,” ucapnya.