Bed Covid-19 di RS Penuh, Puluhan Pasien di Sleman Meninggal Saat Jalani Isoman

Foto ilustrasi pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni membungkusnya menggunakan plastik. - Ist/FOTO ANTARA
30 Juni 2021 17:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dampak dari penuhnya keterisian tempat tidur (TT) pasien Covid-19 di Sleman mulai terasa. Banyak pasien yang tidak tertampung meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

Kondisi tersebut diakui juga oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Joko Hastaryo. Menurut Joko penyebab meninggalnya pasien Covid-19 saat isolasi mandiri disebabkan karena TT Covid-19 di rumah sakit penuh. Kondisi itu menyebabkan pasien virus Corona tidak bisa ditangani di rumah sakit.

"Kalau di awal dulu banyak yang meninggal [isoman] di rumah karena tidak mau ke rumah sakit dan mengira flu biasa, maka saat ini [yang isoman] karena tidak tertampung di rumah sakit," katanya saat jumpa pers secara virtual, Rabu (30/6/2021).

Berdasarkan data Dinkes Sleman, selama Juni ini tercatat sebanyak 145 kasus pasien yang meninggal dunia. Jumlah kasus pasien meninggal, kata Joko, sudah dua kali lipat kasus yang terjadi pada Januari lalu. "Jadi kasus kematian selama Juni ini pecah rekor. Di bulan Januari, yang meninggal ada 87 kasus, Februari 90 dan Mei 92 kasus. Di bulan Juni ini memang di luar dugaan, 145 orang meninggal dan ini mungkin bakal bertambah," kata Joko

BACA JUGA: Presiden Jokowi Putuskan PPKM Darurat di Jawa dan Bali

Jumlah kematian tersebut belum termasuk data kasus meninggal pada 30 Juni sebanyak 5 kasus sehingga total kasus kematian pasien sebanyak 150 kasus. Data yang dihimpun Dinkes ini berbeda dengan data dari Tim Dekontaminasi, Pemakaman dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19 BPBD Sleman.

Sejak 1 Juni hingga Rabu (30/6) siang, Tim Dekontaminasi sudah memakamkan sebanyak 225 jenazah dengan protokol kesehatan. Dari 225 jenazah yang dimakamkan, terdapat 41 pasien yang meninggal dunia saat melakukan isoman. "Data ini belum termasuk data pada 30 Juni di mana sampai Rabu siang sudah ada 20 jenazah yang dimakamkan," kata Koordinator Posko Dekontaminasi Covid-19 BPBD Sleman, Vincentius Lilik Resmiyanto.

Diakui Lilik, banyaknya pasien meninggal saat menjalani Isoman lantaran tidak mendapatkan penanganan di rumah sakit. Setiap kali relawan mencarikan kamar, katanya, kondisi rumah sakit penuh. "Karena penuh, memilih isoman. Keterbatasan oksigen juga ikut memperparah kondisi pasien. Ini yang terjadi," kata Lilik.