Advertisement
Kematian Akibat Covid-19 di Gunungkidul Masih Tinggi
Foto ilustrasi. - Antarafoto
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat angka kematian akibat Covid-19 masih tinggi. Keterbatasan sarana prasarana perawatan menjadi penyebab tingginya kematian ini.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, prosentase kematian akibat corona masih tinggi. Hal ini terlihat dari data penularan pada Rabu (30/6/2021), angka kematian mencapai 4% dari total keseluruhan kasus.
Advertisement
“Cara hitungnya mudah. Jumlah kematian dibagi total kasus secara keseluruhan kemudian dikalikan seratus maka ketemu prosentasenya,” kata Dewi, Kamis (1/7/2021).
Menurut dia, tingkat kematian mencapai 4% termasuk masih tinggi. Pasalnya, prosentase tersebut masih tinggi ketimbang angka rataan kematian di Provinsi DIY maupun nasional. “Baik DIY maupun nasional masih di bawah 3%, tapi di Gunungkidul masih di atasnya,” ungkapnya.
Baca juga: Pelaku Perjalanan Wajib Tunjukkan Kartu Vaksin Covid Selama PPKM Darurat
Dewi mengakui tingginya angka kematian aibat Covid-19, tidak hanya disebabkan oleh melonjaknya kasus secara keseluruhan. Namun, juga disebabkan karena minimnya sarana untuk perawatan.
Ia mencontohkan, fasilitas perawatan kritikal di Gunungkidul hanya ada empat tempat tidur. Hal yang sama juga terjadi pada ruang perawatan ICU sehingga berpengaruh terhadap angka fatalitas. “Kami berupaya untuk menambah fasilitas perawatan, tapi juga butuh proses,” ungkapnya.
Berdasarkan data yang ada, di Gunungkidul pada Juni terjadi lonjakan kasus yang sangat signifikan. Sejak Maret 2020 hingga akhir Mei 2021 jumlahnya sebanyak 3.024 kasus. Selama Juni ada tambahan kasus sebanyak 3.471 orang dinyatakan positif corona.
Baca juga: Petugas TPR Positif Corona, Kawasan Pantai Gesing Ditutup
Lonjakan kasus ini juga berdampak terhadap jumlah pasien yang meninggal dunia. Sejak kasus muncul pertama kali di tahun lalu ada 260 orang yang dinyatakan meninggal karena corona. Dari jumlah ini, sebanyak 115 orang meninggal selama satu bulan di Juni.
“Yang meninggal tidak hanya dirawat di rumah sakit, tapi ada juga yang sedang menjalani isolasi mandiri,” katanya.
Meski demikian, Dewi belum bisa menyajikan data terkait dengan jumlah warga positif corona yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri. “Kalau detailnya, saya harus lihat datanya terlebih dahulu,” katanya.
Ketua PMI Gunungkidul, Iswandoyo mengatakan, pada Rabu (30/6) membantu mengubur tiga jenazah yang meninggal dunia pada saat menjalani isolasi mandiri. Ketiga jenazah ini berasal dari Kapanewon Purwosari, Playen dan Wonosari.
“Total selama Juni, relawan PMI telah membantu memakamkan dengan standarisasi corona sebanyak 55 jenazah,” katanya.
Iswandoyo untuk pelaksanaan pemulasaraan ada 20 relawan yang diterjunkan. Peningkatan kasus pada Juni tugas relawan bertambah berat karena hampir setiap hari ada yang mati karena corona. “Memang situasinya sekarang kurang baik karena pertambahan kasus corona masih tinggi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jasa Marga Tebar Diskon Tarif Tol 30 Persen untuk Urai Arus Balik
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Dua Perahu Kandas Beruntun di Pantai Depok Bantul Empat Selamat
- UMKM Jadi Mesin Perputaran Uang Saat Libur Lebaran di Sleman
- Mobil Dinas Baru di Pemkab Gunungkidul Batal, Jalan Rusak Jadi Fokus
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
- Duel Remaja di Pakualaman Jogja Terbongkar, Dua Pelajar Luka Parah
Advertisement
Advertisement







