Kematian Akibat Covid-19 di Gunungkidul Masih Tinggi

Foto ilustrasi. - Antarafoto
01 Juli 2021 15:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat angka kematian akibat Covid-19 masih tinggi. Keterbatasan sarana prasarana perawatan menjadi penyebab tingginya kematian ini.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, prosentase kematian akibat corona masih tinggi. Hal ini terlihat dari data penularan pada Rabu (30/6/2021), angka kematian mencapai 4% dari total keseluruhan kasus.

“Cara hitungnya mudah. Jumlah kematian dibagi total kasus secara keseluruhan kemudian dikalikan seratus maka ketemu prosentasenya,” kata Dewi, Kamis (1/7/2021).

Menurut dia, tingkat kematian mencapai 4% termasuk masih tinggi. Pasalnya, prosentase tersebut masih tinggi ketimbang angka rataan kematian di Provinsi DIY maupun nasional. “Baik DIY maupun nasional masih di bawah 3%, tapi di Gunungkidul masih di atasnya,” ungkapnya.

Baca juga: Pelaku Perjalanan Wajib Tunjukkan Kartu Vaksin Covid Selama PPKM Darurat

Dewi mengakui tingginya angka kematian aibat Covid-19, tidak hanya disebabkan oleh melonjaknya kasus secara keseluruhan. Namun, juga disebabkan karena minimnya sarana untuk perawatan.

Ia mencontohkan, fasilitas perawatan kritikal di Gunungkidul hanya ada empat tempat tidur. Hal yang sama juga terjadi pada ruang perawatan ICU sehingga berpengaruh terhadap angka fatalitas. “Kami berupaya untuk menambah fasilitas perawatan, tapi juga butuh proses,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang ada, di Gunungkidul pada Juni terjadi lonjakan kasus yang sangat signifikan. Sejak Maret 2020 hingga akhir Mei 2021 jumlahnya sebanyak 3.024 kasus. Selama Juni ada tambahan kasus sebanyak 3.471 orang dinyatakan positif corona.

Baca juga: Petugas TPR Positif Corona, Kawasan Pantai Gesing Ditutup

Lonjakan kasus ini juga berdampak terhadap jumlah pasien yang meninggal dunia. Sejak kasus muncul pertama kali di tahun lalu ada 260 orang yang dinyatakan meninggal karena corona. Dari jumlah ini, sebanyak 115 orang meninggal selama satu bulan di Juni.

“Yang meninggal tidak hanya dirawat di rumah sakit, tapi ada juga yang sedang menjalani isolasi mandiri,” katanya.

Meski demikian, Dewi belum bisa menyajikan data terkait dengan jumlah warga positif corona yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri. “Kalau detailnya, saya harus lihat datanya terlebih dahulu,” katanya.

Ketua PMI Gunungkidul, Iswandoyo mengatakan, pada Rabu (30/6) membantu mengubur tiga jenazah yang meninggal dunia pada saat menjalani isolasi mandiri. Ketiga jenazah ini berasal dari Kapanewon Purwosari, Playen dan Wonosari.

“Total selama Juni, relawan PMI telah membantu memakamkan dengan standarisasi corona sebanyak 55 jenazah,” katanya.

Iswandoyo untuk pelaksanaan pemulasaraan ada 20 relawan yang diterjunkan. Peningkatan kasus pada Juni tugas relawan bertambah berat karena hampir setiap hari ada yang mati karena corona. “Memang situasinya sekarang kurang baik karena pertambahan kasus corona masih tinggi,” katanya.