Rumah Sakit Darurat Respati untuk Pasien Covid-19 di Sleman Mulai Dioperasikan

Ilustrasi. - ANTARA FOTO/Novrian Arbi
19 Juli 2021 19:57 WIB Newswire Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta secara resmi mengoperasikan Rumah Sakit (RS) Respati sebagai RS Darurat COVID-19 (RSDC) untuk penanganan pasien COVID-19 dalam kategori sedang.

Operasional RS Darurat tersebut diresmikan Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo yang ditandai dengan penandatanganan prasasti di halaman RS Respati Yogyakarta, Senin (19/7/2021).

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengatakan diresmikannya RSDC ini merupakan langkah strategis Pemerintah Kabupaten Sleman yang didukung berbagai pihak dalam penanganan COVID-19 di wilayah ini.

"Masih tingginya penularan COVID-19 dan kebutuhan layanan kesehatan perawatan di RS menjadi tuntutan pemkab untuk melakukan langkah-langkah strategis, di antaranya dengan menyiapkan RSDC ini," katanya.

BACA JUGA: Ini Perangkat Lunak Israel yang Memata-Matai Aktivis, Politisi, & Jurnalis

Menurut dia, pada tahap awal RSDC tersebut menyediakan 50 tempat tidur pasien. Di RSDC ini juga terdapat SDM kesehatan yang meliputi dokter umum sebanyak lima orang dan dokter spesialis dua orang (Spesialis Paru dan Spesialis Penyakit Dalam).

"Selain itu, juga didukung oleh tenaga perawat, apoteker, rekam medis, dan tenaga pendukung lainnya. Selain layanan tempat rawat inap, tersedia pula instalasi gawat darurat khusus COVID-19 untuk menetapkan status pasien masuk kategori sedang atau berat," katanya.

Ia mengatakan operasional RSDC ini mulai beroperasi sejak diresmikan. Untuk teknisnya, bagi pasien yang mendapat rujukan dari fasilitas kesehatan pertama (Puskesmas) masuk kategori sedang, pasien dapat diterima untuk melakukan perawatan di RSDC.

Sedangkan pasien berat yang membutuhkan penanganan lanjutan akan dirujuk ke rumah sakit rujukan COVID-19. "Sebagai dukungan dalam pelayanan, RSDC ini juga menyediakan satu unit ambulans," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo mengatakan bahwa RSDC ini disiapkan selama tiga minggu.

"Disiapkannya RSDC ini sebagai langkah adanya kondisi 'Bed Occupancy Ratio' (BOR) yang tinggi, sehingga ada kekurangan tempat tidur bagi pasien," katanya.

Ia mengatakan sejak sebulan terakhir, Sleman mengalami krisis tempat untuk merawat pasien COVID-19. "Dioperasikannya RSDC ini merupakan bagian dari penanganan masalah kekurangan tempat tidur bagi pasien," ucapnya.

Joko mengatakan terdapat 100 tempat tidur yang telah siap digunakan, namun pada tahap awal disiapkan 50 tempat tidur dengan menyesuaikan ketersediaan SDM kesehatan.

Sumber : Antara