Agustus, Seluruh Desa di Bantul Ditargetkan Punya Tim Pemulasaran Jenazah

Foto ilustrasi: Tenaga pikul membawa jenazah dengan protokol COVID-19 untuk dimakamkan di TPU Cikadut, Bandung, Jawa Barat, Selasa (15/6/2021). - ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
05 Agustus 2021 08:37 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Penambahan tim pemulasaran jenazah di tiap Kalurahan kian dibutuhkan. Agustus ini ditargetkan seluruh Kalurahan atau Desa di Bantul memilki tim pemulasaran jenazah.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Bantul, Waljito menyampaikam tim pemulasaran jenazah masih diperlukan sebagai dampak tingginya angka Covid-19 yang frekuensinya masih tinggi. Pada Juli lalu jumlah tim pemulasaran jenazah hanya dimiliki 27 desa, kini jumlahnya mulai bertambah. "Sekarang bertambah, saya kunjungan itu jumlahnya sudah 38 desa yang punya tim pemulasaran jenazah," jelasnya pada Rabu (4/8/2021)

Meski bertambah, masih banyak desa yang belum memilki tim pemulasaran jenazah, baik tim rukti jenazah maupun tim kubur cepat. Ada 75 desa di Bantul dan hanya sekitar setengahnya yang memiliki tim pemulasaran jenazah.

"Merangkak bertambah sekitar 38 desa tangguh rukti. Artinya dia sudah melakukan pelatihan, kemudian mencoba untuk melakikan respon juga. Ini sisanya kita harapkan segera saja, jadi seluruh desa itu tangguh rukti," tambahnya.

Ditargetkan Waljito pada Agustus ini seluruh desa di Bantul sudah memiliki tim pemulsaran jenazah masing-masing. "Saya kira Agustus target kita masif 75 desa sudah mampu melakukan pemulasaran jenazah," tegasnya.

Baca juga: Hari Ini Sudah 100.000 Lebih Orang Indonesia Wafat Karena Covid-19

"Nanti desa tangguh rukti menularkan ilmunya atau memberikan edukasi ke tingkat-tingkat padukuhan. Sehingga nanti masif di seluruh kabupaten Bantul itu masyarakatnya bisa tangguh rukti," tandasnya.

Sebelumnya Sekda Bantul, Helmi Jamharis telah mendorong tiap-tiap desa untuk memiliki tim pemulasaran jenazah Covid-19. Menurutnya, bila desa tak memiliki tim pemulasaran jenazah, pemakaman akan ditangani tim pemulasaran di desa lain atau pun tim di tingkat kabupaten.

"Kebijakannya kalau desa itu belum memiliki tim pemulasaran, seumpama ada yang meninggal maka dia diarahkan untuk menggunakan tim dari desa yang ada di satu wilayah kecamatan. Terdekat tapi masih satu wilayah kecamatan," terangnya.

Helmi menambahkan, dengan adanya tim pemulasaran jenazah Covid-19 di tiap desa, pasien meninggal dunia selama isoman di rumah dapat ditangani dengan cepat. Selain itu bila dibutuhkan, jenazah warga yang meninggal di rumah sakit pun bisa ditangani oleh tim pemulasaran tingkat desa. "Penanganannya oleh rumah sakit, pelaksanaan pemakamannya oleh FPRB [relawan desa] setempat," pungkasnya.