Meningkatkan Resiliensi dengan Teologi Sukacita Menjadi Aspek Penting saat Pandemi

Emanuel Pranawa Dhatu Martasudjita saat menyampaikan pidato ilmiahnya di kampus 3 Universitas Sanata Dharma, Kamis (12/8/2021). - Istimewa
12 Agustus 2021 22:12 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Berteologi bukan hal yang sulit atau jauh di angkasa. Berteologi adalah hidup sehari-hari dengan segala suka dan duka hidup, yang direnungkan dengan kacamata iman. Berteologi dengan suka cita menjadi aspek penting dalam melintasi masa sulit termasuk pandemi Covid-19.

Penegasan itu disampaikan Emanuel Pranawa Dhatu Martasudjita dalam pidato ilmiah pengukuhan Guru Besar Bidang Teologi Universitas Sanata Dharma, dengan judul Sumbangan Teologi Sukacita dalam Mewujudkan Masyarakat yang Semakin Bermartabat, Kamis (12/8/2021).

Dalam pidatonya, pria yang akrab disapa Romo Marta ini menunjukkan korelasi teologi sukacita dalam mewujudkan masyarakat yang semakin bermartabat. Gagasan ini kemudian dimasukkan dalam kondisi masyarakat saat ini, di mana terjadi gangguan akibat pandemi Covid-19 yang berlangsung lebih dari setahun.

Kita mesti menyumbangkan sesuatu agar resiliensi masyarakat Indonesia dapat lebih meningkat, dengan terbangunnya rasa optimisme dan pengharapan yang besar kembali. Kita dapat meningkatkan resiliensi diri dan masyarakat dengan mendalami teologi sukacita,” ujarnya.

Tema yang diusung merupakan hasil renungan dari kata-kata Santo Vincentius dari Lerin abad V, yakni aniis consolidetur, dilatetur tempore, sublimetur aetate. Paus Fransiskus mengartikan kata-kata ini dengan menyebut bahwa iman itu berkembang dalam waktu dan menjadi lebih dalam dengan usia.

Zaman ini membutuhkan penafsiran Injil yang benar bagi pemahaman yang lebih baik atas kehidupan, dunia dan kemanusiaan. Bukan hanya dalam suasana penelitian sintesis tetapi juga spiritual yang didasarkan kebenaran akal budi dan iman. Orang tidak dapat mempertahankan ajaran iman tanpa mempertahankannya,” katanya.

Ada Kesamaan

Pria kelahiran Bantul, 19 Desember 1962 ini mengambil pengalaman pribadi tiga tokoh sebagai pemetaan masalah, yakni Paus Fransiskus, Kardinal Joseph Bernardin dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dalam menjadi manusia yang bermartabat, ketiga tokoh ini dipandang memiliki ciri yang sama, yakni hidupnya penuh sukacita.

Ia melihat ada kesamaan konteks dari ketiga tokoh ini, yakni situasi sulit dalam hidupnya ketika masing-masing harus membuat keputusan yang baik dan bijaksana. “Konteks Paus Fransiskus dan Gus Dur memiliki kesamaan dalam hal situasi sosial-politik, sementara Kardinal Joseph Bernardin lebih berkaitan dengan konteks Gereja Katolik di Amerika Serikat,” katanya.

Seperti diketahui, Paus Fransiskus ketika masih sebagai Provinsial SJ di Argentina, ia berjuang melindungi anggotanya dari penangkapan rezim militer Videla. Adapun Kardinal Bernardin harus menghadapi masalah tuduhan pelecehan seksual yang kemudian berpengaruh pada pandangan publik terhadap Gereja katolik Amerika.

Sementara Gus Dur, yang waktu itu berada di tengah pergolakan politik harus memilih lengser dari jabatan sebagai presiden untuk menghindari perang saudara pendukung masing-masing pihak. Sikap ini menjadi kebesaran hati seseorang yang mencintai negaranya di atas kepentingan sendiri.

Dari ketiga tokoh ini tampak bahwa kemerdekaan hati dan sukacita dimiliki berkat relasi erat dengan Tuhan. Relasi ini juga tidak pernah dipisahkan dalam bentuk keterlibatan mereka bagi kebaikan dan kesejahteraan sesamanya dan lingkungan alamnya.