Kaum Muda Diajak Lestarikan Nilai Keistimewaan

Pemaparan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi yang didampingi Tim Penyiapan Yogyakarta Warisan Dunia, Suyata dalam gelar wicara daring dengan tema Yogyakarta Menuju Kota Warisan Budaya Dunia pada Jumat (13/8/2021).-Harian Jogja - Yosef Leon
14 Agustus 2021 06:42 WIB Yosef Leon Jogja Share :

JOGJA - Penetapan Jogja sebagai salah satu kota warisan dunia oleh UNESCO mestinya terejawantahkan dengan perilaku masyarakat di dalam menjalankan pola kehidupan. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam simbol Keistimewaan Jogja yaitu berupa sumbu filosofis, garis imajiner, dan lainnya bisa dijadikan sumber inspirasi dan panduan dalam bersikap.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi mengungkapkan anak muda bisa berperan dalam memaknai Keistimewaan DIY. Sebab, nilai luhur yang terkandung serta ajaran-ajaran yang diwariskan lewat simbol fisik maupun nonfisik itu adalah identitas yang melekat dalam diri masyarakat.
Disbud ingin mengajak masyarakat dan anak muda secara khusus agar menjadi ujung tombak dalam upaya pelestarian budaya dan menjalankan program-program Jogja sebagai kota warisan dunia.
Di sisi lain, dengan ditetapkannya Jogja sebagai kota warisan dunia adalah semacam bentuk pengakuan serta kehormatan yang diberikan masyarakat global terhadap Keistimewaan DIY. "Sehingga kalau kita yang mempunyai budaya itu sendiri tidak dikondisikan maka itu akan sia-sia saja. Maka prinsip kami, Jogja yang istimewa ini mesti diikuti dengan upaya mempertahankan dan menyelamatkan tradisi, budaya serta nilai luhur yang dipunyainya," kata Diah dalam diskusi dengan tema Yogyakarta Menuju Kota Warisan Budaya Dunia, Jumat (13/8). Acara secara daring itu kerja sama Harian Jogja bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY.
Diah menyebut pengakuan hanya salah satu bentuk bonus, yang lebih utama adalah bagaimana nilai-nilai keistimewaan itu bisa dilestarikan dan terpatri dalam diri individu. Hal itu bisa tercermin dari perilaku dan sikap masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan seharusnya sudah menjadi kebiasaan karena nilai itu merupakan tradisi atau akar kebudayaan mereka yang telah dibawa sejak lahir.
"Hal ini yang sebenarnya penting untuk diperhatikan oleh anak muda sekarang, karena mereka lahir dan besar dari akar dan budaya Jogja, sehingga seharusnya bisa lebih berperan dalam pelestarian itu," ungkapnya.
Disbud berharap agar kandungan yang terdapat dalam penetapan Jogja sebagai kota warisan dunia bisa dijadikan sumber kreativitas maupun inspirasi bagi kawula muda. Mereka bisa menjadikan nilai-nilai itu sebagai panduan dalam berperilaku.
Tim Penyiapan Jogja Warisan Dunia, Suyata, menerangkan edukasi terhadap ajaran, makna, nilai serta keluhuran yang dimiliki sumbu filosofis dan garis imajiner sebagai salah satu bentuk Keistimewaan DIY perlu digencarkan. Lewat pemahaman yang baik, niscaya pelestarian akan nilai-nilai itu bisa lebih kian dioptimalkan.
Suyata menjelaskan secara umum sumbu filosofis sebenarnya adalah rancangan tata ruang kota yang diciptakan dengan penuh makna serta konsep luhur di setiap titiknya. Adapun sumbu filosofis tersebut adalah bentang bangunan yang membujur dari arah utara-selatan dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai titik pusatnya, sementara Tugu Pal Putih di sisi utara Kraton, dan Panggung Krapyak di sisi selatannya.
Konsep ini digali oleh Sultan Hamengku Buwana (HB) I yang secara filosofis dapat disebut dengan kredo Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan dari ada). "Makna konsep itu kurang lebih untuk melihat dan dijadikan panduan bagaimana manusia berproses dari sejak lahir sampai meninggal. Jadi Sangkan Paraning Dumadi itu sebenarnya proses bagaimana manusia lahir, dewasa, mempunyai pekerjaan dan juga tantangannya. Semua perjalanan hidup itu akan menuju ke satu titik yaitu Tuhan," jelas Suyata.
Secara rinci dia mengungkapkan simbol kebendaan yang ditunjukkan Panggung Krapyak di sisi selatan sampai Kraton itu disebut Sangkan kemudian yang berada sisi utara dari Tugu ke Kraton dinamai Paraning. "Konsep ini bisa jadi pemahaman bagi anak muda sekarang kalau ide dan gagasan dari HB I itu sudah bisa jadi contoh pola kreatif dari individual yang luar biasa dan diciptakan pula dalam bentuk nonfisik lalu disimbolkan dalam bentuk fisik. Itu kan ide gagasan yang bermula dari cipta, rasa dan karsa," katanya.
Di sisi lain dalam Keistimewaan DIY terdapat juga istilah garis imajiner. Menurut Suyata, garis imajiner adalah titik khayal tidak kasatmata yang menghubungkan tiga titik yakni Gunung Merapi, Kraton, dan juga Laut Selatan. Ketiga itu punya lambang tertentu berupa laut dan gunung serta Kraton sebagai pusat pemerintahannya.

Proses Penetapan
Pemda DIY bersama sejumlah pihak terkait telah melalui proses yang panjang dalam pengajuan Jogja sebagai Kota Warisan Dunia (World Heritage City) dimana Sumbu filosofis dan sumbu imajiner yang dimiliki menjadi andalan. Pengajuan itu telah berlangsung sejak 2014 silam dan secara bertahap diverifikasi oleh UNESCO.
Suyata menjelaskan pada 2014 lalu pihaknya telah mengkaji secara lokal terhadap rencana pengajuan itu. Adapun sejumlah kriteria yang dikaji berupa studi kelaikan, penilaian dan lain sebagainya. Kemudian pada 2017, Pemda DIY mengusulkan rencana itu, lalu oleh UNESCO dikaji dengan melihat minimal terdapat satu kriteria yang memenuhi syarat untuk ditetapkannya menjadi World Heritage City. "Itu yang dinilai dan dilihat memenuhi kriteria dari outstanding universal value atau nilai yang luar biasa sejagad minimal satu saja cukup. Tapi setelah dikaji ternyata ada empat nilai yang masuk yakni karya kreatif, pertukaran tradisi, dan sebagainya," katanya.
Adapun proses pengajuan itu tidak berhenti sampai ditetapkannya Jogja sebagai World Heritage City. Pemda DIY bersama seluruh pihak terkait mesti berkomitmen dalam menjalankan sejumlah program dalam dokumen yang terdapat saat pengajuan.