Padat Karya Sasar Talut Jalan Terjal di Mangunan

Masyarakat mulai menggarap talut jalan di Lemahabang, Mangunan, Dlingo melalui program padat karya, belum lama ini. - Istimewa/Kelompok Padat Karya Lemahabang
14 Agustus 2021 06:47 WIB Media Digital Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Program padat karya dengan sumber anggaran Bantuan Khusus Keuangan (BKK) DIY tak pilih-pilih lokasi sebagai sasaran pembangunan. Salah satunya adalah talut jalan terjal yang ada di kawasan perbukitan Mangunan.

Ketua Kelompok Padat Karya Lemahabang, Kalurahan Mangunan, Kapanewon Dlingo, Ngatimin menjelaskan program padat karya di lokasinya menyasar talut jalan yang kerap longsor. "Posisinya di pegunungan di mana pembangunannya berbentuk talut. Sebelumnya belum ada talut, masih nol," terangnya pada Jumat (13/8/2021).

Di bagian atas jalan, Ngatimin menerangkan bila jalan sebelumnya memang telah dicorblok akan tetapi hanya sebagian. Sebagai jalan padukuhan, jalan yang ada juga terhitung begitu sempit karena tidak memiliki talut yang memadai.

"Saya berpikir begini, karena itu tanah di pedesaan, tanah di pegunungan, tanah hitam, itu tanahnya bergerak. Artinya bergerak itu kalau musim kemarau berlubang, merekah retak-retak," ujarnya.

Dengan kondisi tipe tanah yang demikian tidak didukung adanya talut penyangga jalan. Ngatimin menceritakan warga secara swadaya coba hanya mampu menguatkan talut dengan kemampuan terbatas.

"Kondisi talut itu kadang-kadang masyarakat sampai kewalahan untuk membenahi. Kadang-kadamg per tahun kerja bakti membenahi," ungkapnya.

Secara swadaya, disebutkan Ngatimin, warga hanya mampu membikin tanggul menggunakan batu kosong. Sayangnya, karena tak didukung dengan bangket, batu kosong penyangga talut hampir setiap tahun lepas atau gugur.

"Karena tidak ada bangketan enggak ada semen, benar-benar hanya batu kosong. Jalan itu semakin lama semakin sempit. Mungkin karena gugurnya tanggul belum sempat membenahi. Kadang buat untuk berpapasan itu kesulitan," ujar dia.

Adanya bantuan padat karya angaran BKK DIY sangat membantu dalam meningkatkan aksesibilitas warga. Ngatimin mengaku senang talut jalan sepanjang 263 meter bisa diperbaiki dengan standar yang memadai.

Pembangunan padat karya ini setidaknya tinggal menyisakan sekitar 100 meter lagi jalan yang perlu di talut. "Masyarakat senang, artinya dengan kondisi seperti ini pertama kalinya secara pengerjaan dan aturan material pengerjaan iti mengikuti standar. Digarap serius, kalau dulu swadaya masyarakat. Pembangunan talut ini dengan ukuran yang standar dengan mencari kualitas mengharap bangketan ini tahan lama," ungkapnya.

Terlebih menurut Ngatimin, masyarakat tidak hanya senang talut jalan dibangunkan. Tetapi secara ekonomi juga diberdayakan lantaran dilibatkan dalam pengerjaan.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih berharap seluruh wilayah di Kabupaten Bantul memiliki infrastruktur fisik yang bagus. Jalan-jalan desa diharapkan repreaentatif dan bagus yang dapat diwujudkan melalui program padat karya.

"Tentu ini membutuhkan anggaran pembiayaan yang luar biasa besar. Karena itulah sinergi diperlukan baik APBD Bantul, APBD DIY, bahkan APBN dan juga APBDes supaya bisa mempercepat pembangunan infrastruktur," tambahnya.

Pengangguran

Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul, Aris Suharyanta menerangkan program padat karya memiliki beragam tujuan di antaranya menekan angka pengangguran, setengah penganggur dan masyarakat miskin. Tidak hanya itu, adanya program ini dinilai akan meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pusat pelayanan sosial dasar mulai dari kesehatan, pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian.

Secara rinci Arus menjelaskan dari 60 titik pelaksanaan padat karya di 2021, ada sebamyak 3.120 tenaga kerja diserap dalam berbagai bentuk pembangunan infrastruktur. Perinciannya, pembangunan infrastruktur pada padat karya tahun ini meliputi corblok di 45 titik, pembuatan talut di 11 titik, corblok bersama talut dua titik, pembauatan drainase satu titik dan pembangunan drainase tertutup satu titik.

Di sisi lain Sekretaris Disnakertrans Bantul Istirul Widilastuti menerangkan anggaran padat karya sebesar Rp160 juta akan digunakan dalam berbagai peruntukan. Pertama untuk anggaran dialokasika  untuk upah perangsang kerja total Rp68 juta. Selanjutnya untuk pembelian bahan-bahan material sekitar Rp72 juta. Sementata itu Rp20 juta diperuntukkan untuk kegiatan lain pendukung program padat karya.

"Upah tenaga kerja Rp70.000 per hari, tukang Rp80.000 per hari, dan ketua kelompok Rp90.000 per hari. Disnakertrans yang diurusi perosoalan tenaga kerja, oleh karenanya nanti yang akan kembali sebagai upah tenaga kerja menempati posisi yang teratas," ujar dia.