Bantu Kelola Kualitas Madu dengan Alat Ekstraksi

Tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yakni Fikri Alfandani I, Anita Putri, dan Febrianti Putri N mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berjudul "Inovasi Alat Ekstraksi Penurunan Kadar Air Madu dalam Meningkatkan Efisiensi dan Kualitas Madu,". - Ist
18 Agustus 2021 16:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pengembangan budidaya lebah madu di Indonesia memiliki potensi yang baik. Sayangnya hal tersebut belum diimbangi dengan kemampuan peternak lebah dalam mengelola kualitas madu yang baik.

Hal itu kemudian menjadi latar belakang tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yakni Fikri Alfandani I, Anita Putri, dan Febrianti Putri N untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berjudul "Inovasi Alat Ekstraksi Penurunan Kadar Air Madu dalam Meningkatkan Efisiensi dan Kualitas Madu,".

Kelompok yang bekerja di bawah bimbingan Beni Suranto, S.T., M.SoftEng ini melihat peternak madu masih belum memahami kadar air madu yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang tidak boleh lebih dari 22%.

Fikri Alfandani I, mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII menjelaskan kadar air madu yang tinggi dapat memicu terjadinya fermentasi dan mempercepat kerusakan madu. Maka kelompok membentuk inovasi alat ekstraksi dan penurun kadar air madu yaitu sebuah alat yang memanfaatkan water pump untuk mempermudah dan mengoptimalkan proses penyedotan madu dari sarang.

Untuk menurunkan kadar air madu kelompok memanfaatkan waterbath yang dihubungkan dengan dinamo sehingga dapat memanaskan madu secara tidak langsung menggunakan perantara air sehingga tetap dapat menjaga kandungan yang ada dalam madu. Oleh karena itu, alat ini berfungsi dapat meningkatkan kualitas madu sehingga dapat meningkatkan harga jual madu dan keawetan produk.

"Penelitian ini relevan bagi kebutuhan masyarakat karena saat ini banyaknya masyarakat awam yang asal-asalan dalam membeli madu. oleh karena itu, perlunya edukasi yang penting untuk meningkatkan kualitas madu sehingga dapat meningkatkan harga jual madu dan keawetan produk," kata dia.

Lebih lanjut, Anita Putri menyampaikan mekanisme alat ini memadukan sistem kerja water pump dan pemanas waterbath. Dengan memanfaatkan sistem water pump yang memiliki dinamo yang akan bergerak dengan adanya fasilitas daya listrik.

Fungsi dinamo adalah menarik madu dengan menggunakan putaran impeler sehingga menimbulkan tarikan, madu yang ditarik dari sarang akan dialirkan menuju pipa out. Kemudian pada pipa out, impeler akan mendorong madu untuk menuju penampungan waterbath. Waterbath akan memanaskan madu secara tidak langsung sehingga dapat menurunkan kadar air tanpa merusak enzim pada madu.

"Waterbath akan bekerja saat saklar di posisi “on” dan telah diatur pada suhu tertentu maka arus listrik dari sumber akan memberi suply listrik ke heater. Heater yang diberi arus listrik memeberikan panas pada alat, suhu semakin tinggi, dan berhenti naik sampai suhu yang diinginkan. Wadah yang berisi air akan mempertahankan suhu secara konstan selama selang waktu yang ditentukan. Air tersebut akan memanaskan mau seingga kadar air dalam madu dapat berkurang," kata Anita.

Febrianti Putri N menyimpulkan, bentuk inovasi alat yang akan diterapkan adalah alat ekstraksi dan penurun kadar air madu. Alat ini memanfaatkan water pump untuk mengoptimalkan penyedotan madu dari sarang dan waterbath untuk menurunkan kadar air. Proses perancangan alat ini menggunakan metode desain partisipatori yang terdiri dari plan, do, check, action.
"Keuntungan dari alat ini adalah mitra dapat meningkatkan kualitas madu sehingga dapat meningkatkan harga jual madu dan keawetan produk. Selain itu produktivitas dalam proses ekstraksi madu akan meningkat karena madu yang dihasilkan lebih optimal," kata dia. (ADV)