RingTone, Bantu Penderita Depresi Mengatur Emosi

Tampilan prototype android apps RingTone - Ist
25 Agustus 2021 20:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sekelompok mahasiswa Unversitas Islam Indonesia (UII) yakni Ridhwanah Nadhiratuz Zahrah (Kedokteran/Fakultas Kedokteran), Fatimah Shalehah (Teknik Informatika/Fakultas Teknologi Industri), Luis Maharani Harsono (Psikologi/Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya), Millen Febiansyah (Teknik Elektro/Fakultas Teknologi Industri), dan Fahrul Triyulianto Rusli (Teknik Industri/Fakultas Teknologi Industri) mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan mengangkat riset berjudul “RingTone : Cincin Berbasis Electrodermal Activity Terintegrasi Mobile Apps dengan Teknologi Sound Emotion Recognition untuk Membantu Pengaturan Emosi Penderita Depresi”.

Dari beberapa literatur yang dibaca, tim berpendapat bahwa depresi merupakan gangguan mental yang paling banyak berkontribusi dalam meningkatkan angka Disability Adjusted Life Year (DALY), yaitu angka kematian yang disebabkan karena disabilitas, kematian prematur, kelumpuhan, dan kecelakaan lalu lintas. Timbulnya depresi tidak lepas dari kaitan antara respon emosional seorang individu terhadap stressor dari lingkungannya.

Akhir-akhir ini, sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligent/AI) menjadi alternatif dalam penanganan gangguan mental karena sifat AI yang cenderung dianggap tidak menghakimi dan netral, sehingga pasien gangguan mental yang terkendala stigma sosial dan ingin mendapatkan penanganan awal terkait peyakitnya dapat lebih nyaman untuk mengakses bantuan yang dibutuhkan.

“Melihat potensi tersebut, Tim RingTone mengembangkan sebuah sistem kecerdasan buatan dalam aplikasi smartphone android untuk membantu regulasi emosi penderita depresi,” tutur Ridhwanah Nadhiratuz Zahrah selaku lead project pembuatan prototipe RingTone.

Menurut dia, proyek ini membuka peluang alternatif penanganan bagi masyarakat yang memiliki masalah pengaturan emosi, terutama emosi negatif yang dapat menyebabkan gangguan mental berupa depresi. “Kebanyakan masyarakat malu pergi ke psikiater untuk mendapatkan pengobatan saat awal terjadinya gejala depresi dan memilih melampiaskan ke hal-hal lain seperti berhenti bertindak produktif, cenderung memiliki adiksi terhadap sesuatu yang merugikan [kafein, obat-obatan pereda nyeri, bahkan narkotika], kemudian kebanyakan pasien gangguan jiwa baru mendatangi psikiater saat sudah mengalami gangguan jiwa berat,” tutur dia.

Oleh karena itu, melalui kecerdasan buatan yang dikembangkan, tim berharap dapat membantu dan mengajarkan masyarakat untuk mengatur emosi negatif mereka secara mandiri, sebelum emosi tersebut mengarah ke gangguan mental yang lebih berat. Selama menggunakan sistem kecerdasan buatan, masyarakat tidak perlu merasa malu untuk menangani gangguan emosi mereka, karena tidak ada stigma sosial yang biasa timbul seperti saat berinteraksi dengan manusia yang asli.

“Selain untuk mendeteksi emosi pengguna melalui suara, sistem kecerdasan buatan rancangan kami juga nantinya dikembangkan untuk mendeteksi gangguan emosi negatif yang kronis alias berlangsung le agar nantinya sistem dapat memberikan petunjuk pada pengguna untuk memeriksakan diri ke psikiater terdekat sebelum gangguan emosi tersebut semakin parah," lanjut Fahrul Triyulianto Rusli.

RingTone merupakan cincin yang mendeteksi arus listrik di permukaan kulit pengguna, kemudian dihubungkan dengan sistem kecerdasan buatan dalam sebuah aplikasi smartphone android untuk mengenali bentuk-bentuk emosi manusia. Tim RingTone mengembangkan prototipe produk dengan memperhatikan dua aspek dasar, yaitu bagaimana membuat kecerdasan buatan bisa mendeteksi emosi manusia lewat suara dan menggabungkannya dengan data dari cincin RingTone yang mendeteksi impuls listrik di permukaan kulit pengguna.

Fatimah shalehah, yang bertanggungjawab mengembangkan model pembelajaran mesin untuk kecerdasan buatan mengungkapkan bahwa teknologi Speech Emotional Recognition (SER/kecerdasan buatan yang dapat mengenali jenis emosi manusia lewat suara) bekerja dengan cara menangkap sinyal pembicaraan dari narasumber, lalu data suara tersebut akan diproses menggunakan beberapa algoritma tertentu untuk diklasifikasikan dan diuji akurasinya terhadap database suara emosional manusia yang disimpan oleh tim RingTone.

Data ini nantinya akan digabungkan dengan hasil analisis emosi dari cincin RingTone yang dikembangkan oleh Millen Febiansyah. Cincin akan memperkaya hasil analisis kecerdasan buatan melalui data arus listrik di permukaan kulit manusia yang dihasilkan melalui detak jantung. "Konduktansi kulit ini merupakan indikasi dari gairah psikologis ataupun fisiologis," ungkap Millen.

"Dari segi psikologi, manfaat dari RingTone ini sebagai Emotion Tracker untuk membantu regulasi emosi pada seseorang dengan penderita gejala depresi. RingTone mampu melakukan emotion tracking dan emotion journaling untuk seseorang yang mengalami depresi ringan, mampu mendeteksi emosi yang muncul, serta memberikan feedback positif sebagai upaya meditasi atau relaksasi pengguna. Dengan kata lain RingTone sebagai media yang 'membersamai' pengguna dalam mengelola emosinya." ungkap Luis Maharani Harsono. (ADV)