Sudah Menurun, BOR di Gunungkidul Masih di Atas Rataan Nasional

Petugas medis melakukan perawatan pasien di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DIY, Minggu (4/7/2021). /ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah -
29 Agustus 2021 15:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Tingkat kerterisian tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di Gunungkidul terus mengalami penurunan, seiring melandainya kasus penularan. Meski demikian angkanya masih di atas rata-rata nasional.

Sesuai dengan pidato Presiden RI, Joko Widodo dalam acara sarasehan dengan 100 ekonomi pada Kamis (26/8/2021), rata-rata BOR di Indonesia sebesar 29%. Adapun posisi di Gunungkidul hingga sekarang di kisaran 41,8%.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit terus menurun. Ia mencatat pada Juli lalu, sempat mencapai 93% angka keterisiannya.

Baca juga: Seorang WNI di Iran Terkofirmasi Positif Covid-19, Total Kasus di Luar Negeri Jadi 5.770 Orang

Untuk saat sekarang juga terus menurun dan mencapai 41,8%. Namun, diperbandingkan dengan rata-rata nasional masih tinggi. “Turunnya cepat dan ini pertanda baik,” kata Dewi, Minggu (29/8).

Dia menjelaskan, penurunan ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kasus corona yang mulai melandai sejak beberapa waktu lalu. Pihaknya pun berkomitmen untuk terus berupaya menurunkan BOR di rumah sakit di Gunungkidul.

Salah satu upaya yang dilakukan dengan menurunkan jumlah pasien di rumah sakit. Adapun caranya dengan menggalakan deteksi dini terhadap potensi penularan virus corona.

“Pasien yang terdeteksi harus segera ditangani sehingga keadaan tidak semakin parah,” ungkapnya.

Menurut dia, upaya ini juga membutuhkan partisipasi dari masyarakat. Dewi mengimbau, apabila ada gejala segera memeriksakan diri dan secepatnya berobat.

Baca juga: Kawasan Malioboro Mulai Menggeliat

“Ya kalau memang bergejala, maka harus mau di-tracing dan testing. Untuk menurunkan BOR, kami juga terus meningkatkan program pencegahan penularan corona di masyarakat,” imbuh Dewi.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Direktur RSUD Wonosari, Heru Sulisyowati. Menurut dia, angka keterisian tempat tidur sudah berkurang jauh. Pada saat corona meledak, tingkat keterisian mencapai 93%, namun pada saat ini telah berkurang dan tinggal sekitar 40%. “Sudah turun karena dengan melandainya kasus corona, ikut berpengaruh terhadap keterisian tempat tidur perawatan,” katanya.

Heru menambahkan, pada saat kasus tinggi, terjadi antrean pasien untuk mendapatkan ruang perawatan. Meski demikian, pada saat ini sudah tidak ada antrean seiring berkurangnya BOR di rumah sakit. “Tenda darurat layanan tidak dipakai lagi karena ruang pelayanan yang dimiliki masih tersedia,” katanya.