Autofill Valve, Solusi Suplai Kebutuhan Air Minum Otomatis untuk Ayam Petelur

Pipa-pipa yang sudah disambungkan ke tempat air minum ayam petelur dan tempat penyaluran air sehingga dapat terdistribusi hingga kandang paling ujung. - Ist
31 Agustus 2021 20:27 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang digulirkan Pemerintah mendorong mahasiswa Indonesia untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam memberikan sumbangsih terhadap permasalahan di masyarakat.

Salah satu kelompok dari Universitas Islam Indonesia (UII) ini misalnya. Mereka yang berasal dari Prodi Teknik Industri/Fakultas Teknologi Industri ini yakni Suryo Wisnuhadi, Alya Fauziah Kusuma Wardhani, Husna Indika Putri, Andita Rizky Fadilah, dan Muh Luqman Khakim mengangkat penelitian berjudul “Autofill Valve sebagai Solusi Suplai Kebutuhan Air Minum Otomatis Berbasis Arduino pada Kandang Ayam Petelur”.

Suryo Wisnuhadi  menjelaskan terdapat permasalahan utama dalam peternakan ayam petelur yaitu mengenai aktivitas pemberian pasokan air minum ayam. Awalnya, aktivitas pemberian air minum dilakukan secara manual dengan paralon. Ini terlihat saat pengelola mengisi air dalam paralon dengan mengarahkan selang secara bergantian ke beberapa paralon yang ada hingga penuh. Karena aktivitas tersebut membutuhkan tenaga dan waktu lebih, pengelola beralih ke nipple agar aktivitas pemberian pasokan air minum dapat dilakukan secara praktis. Pengelola hanya perlu menghidupkan keran yang telah terhubung dengan nipple sehingga ketersediaan air akan selalu terjaga sepanjang waktu. Namun cara tersebut ternyata membuat konsumsi air berkurang karena ayam hanya dapat minum beberapa tetes saja saat mematuk nipple.

Akibat hal tersebut, pengelola memutuskan untuk kembali ke cara manual yakni dengan penggunaan paralon. Hal ini dipilih dengan pertimbangan produktivitas ayam petelur yang mencakup konsumsi ayam terhadap air menurun yang kemudian menyebabkan menurunnya konsumsi pakan dan bobot telur saat menggunakan nipple.

Terdapat saran yang diberikan dalam pengamatan tersebut untuk mempertahankan produktivitas ayam petelur, yaitu dengan memberikan air yang cukup sehingga akan berdampak positif terhadap konsumsi pakan, ADG, HDP, dan bobot telur. Dengan begitu, paralon merupakan alternatif yang lebih baik dari pada nipple dalam meningkatkan produktivitas ayam petelur.

Untuk mempertahankan produktivitas sekaligus mengubah aktivitas manual pengelola saat memberikan pasokan air minum ayam menjadi praktis dan efektif, dibutuhkan terobosan inovasi alat yang dapat mempertahankan paralon sebagai tempat minum ayam. “Dengan begitu, dirancang inovasi alat suplai kebutuhan minum ayam otomatis bernama AUTOFILL VALVE dengan tetap mempertahankan bentuk kandang dan penggunaan paralon sebagai tempat minum ayam yang dikontrol melalui microcontroller,” kata Suryo.

Alat ini dirancang secara sederhana dengan mempertimbangkan aspek affordable dan tepat guna bagi permasalahan yang terjadi di peternakan NVL ps, juga tidak menutup kemungkinan dapat diimplementasikan di peternakan lain.

Alya Fauziah menjelaskan pada tahapan awal, dilakukan observasi terhadap peternakan NVL ps untuk mengetahui permasalahan yang ada. Hasil observasi tersebut kemudian dianalisis untuk dijadikan acuan dalam pembuatan dan pengembangan alat suplai air minum otomatis. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi brainstorming and development untuk pembuatan konsep alat. Setelah diskusi, lalu persiapan alat dan bahan yang meliputi penentuan alat bahan, komponen baik mekanis maupun elektronik yang dibutuhkan, proses desain alat, dan penyediaan alat dan bahan.

“Setelah melalui persiapan alat dan bahan, dilakukan perakitan alat yang meliputi perangkaian modul elektronika dan microcontroller, pembuatan electrical box, pemrograman microncontroller, perakitan aktuator, penghubungan aktuator dengan microcontroller, uji coba alat, perakitan aktuator sesuai struktur kandang, dan instalasi alat pada peternakan NVL ps,” kata Alya.

Setelah tahap perakitan alat, dilakukan evaluasi alat secara menyeluruh mulai dari berbagai aspek seperti uji realibility, uji usability, efektifitas, dan efisiensi alat. Kemudian, dilanjutkan dengan kegiatan respon mitra untuk mengkaji ulang produk secara menyeluruh dengan menjadikan data yang didapat dari respon pengguna dan hasil uji coba sebagai acuan dalam pembenahan alat. Lalu dilanjut dengan implementasi pada mitra, setelah melalui tahapan error and failure dan pengujian ulang.

Dari program PKM-PI yang telah dijalankan, dihasilkan output yang baik terhadap penyempurnaan alat maupun manfaat penggunaan alat yang dirasakan oleh peternakan NVL ps. “Presentasi pelaksanaan kegiatan telah mencapai 90 persen yang meliputi observasi, perancangan dan pembuatan alat, manual book, mekanisme penggunaan alat, dan pengaplikasian alat di tempat mitra,” kata Husna Indika.

Berdasarkan feedback dari peternakan NVL ps, alat ini dapat diterapkan oleh peternakan ayam petelur lainnya untuk mengatasi permasalahan dalam aktivitas pemberian suplai air minum ayam sekaligus meningkatkan produktivitas ayam petelur.

Berdasarkan kuesioner System Usability Scale SUS, dapat diketahui pengujian usability menunjukkan skor 70. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa produk AUTOFILL VALVE ini tergolong pada skala SUS yang cukup baik (OK). Hal tersebut berarti pada produk AUTOFILL VALVE ini cukup baik untuk digunakan atau dapat diterima bagi pengguna dan perlu memperbaiki kembali fitur atau desain pada produk agar dapat digunakan dengan nyaman.

Uji reliability dilakukan selama 10 hari dengan cara mematikan alat saat paralon tempat minum ayam dibersihkan dan menghidupkan kembali alat setelah paralon dibersihkan. Dalam sehari, proses ini dilakukan dua kali setiap pagi dan sore. Selama 10 hari ini, alat akan dihidupkan sebanyak 20 kali dengan error yang terjadi hanya sekali saja. Dengan begitu, tingkat eror pada AUTOFILL VALVE sebesar 5% dengan error yang terjadi adalah alat tidak berjalan atau terjadi freeze. Solusinya sangat sederhana, yaitu cukup menekan tombol reset pada microcontroller.

“Dengan memberikan suplai air minum secara manual, pengelola menghabiskan 150 detik untuk mengairi satu paralon pada peternakan NVL ps. Berbeda signifikan ketika menggunakan AUTOFILL VALVE, waktu kerja pengelola dapat dipangkas secara signifikan karena pengelola hanya perlu menekan tombol switch saja sehingga air akan mengairi keenam paralon secara otomatis dan mempertahankan ketinggian air pada titik tertentu,” kata Muh Luqman Khakim. (ADV)