Ekonomi di Sekitar Exit Tol Sleman Diprediksi Tumbuh Cepat, Ini yang Disiapkan

Ilustrasi. - Freepik
07 September 2021 21:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pemerintah sudah memproyeksi ekonomi di DIY khususnya Sleman akan mengalami pertumbuhan selama proses hingga beroperasinya jalan tol Jogja-Solo maupun Jogja-Bawen.

"Hanya saja berapa proyeksi pertumbuhannya, pemerintah DIY yang menyusun. Tapi yang jelas kami juga meyakini pembangunan jalan tol akan membawa dampak positif bagi ekonomi Sleman," kata Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bappeda Sleman Dona Saputra Ginting, Selasa (7/9/2021).

Dona menjelaskan, keberadaan jalan tol Jogja-Solo maupun Jogja-Bawen juga dirancang untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat. Di kedua jalan tol tersebut, hanya terdapat dua exit/entry tol. Masing-masing, untuk tol Jogja-Solo berada di Bokoharjo, Prambanan dan tol Jogja-Bawen berada antara kalurahan Banyurejo dan Tambakrejo, Tempel.

Pemkab juga sudah menyiapkan kerangka hukum untuk menangkap peluang ekonomi dari keberadaan exit/entry tol ini. Selain sudah menyusun Perda RDTR (rencana detail tata ruang) per kawasan, Pemkab juga memiliki Perbup Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh.

BACA JUGA: Puluhan Warga Seyegan Gelar Musyawarah Pembangunan Jalan Tol Jogja-Bawen

"Untuk RDTR Sleman Timur di mana terdapat exit/entry tol pengembangannya ke arah pariwisata sementara RDTR Sleman Utara pengembangannya ke sektor budaya," paparnya.

Adapun dalam Perbup Pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh, kata Dona, Pemkab sudah menyiapkan kalurahan-kalurahan untuk menjadi kawasan pusat ekonomi. Terdapat 10 kalurahan yang disiapkan baik di sekitar exit/entry tol Jogja-Bawen maupun Jogja-Solo.

Mulai Bokoharjo, Madurejo, Sumberharjo (Prambanan), Balecatur, Ambarketawang (Gamping), Tambakrejo, Sumberrejo, Banyurejo (Tempel), Margoagung dan Margokaton (Seyegan). Pelaksanaan pembangunan di kawasan ini, dilakukan dengan mengembangkan daya saing daerah.

Selain itu, pembangunan aksesibilitas, utilitas, prasarana umum dan fasilitas umum lainnya diarahkan untuk mendukung kawasan ini. "Makanya, kami membangun Transit Multi Fungsi [TMF] yang bukan hanya rest area. Di TMF ini nanti terintegrasi dengan kegiatan-kegiatan ekonomi seperti pariwisata dan UMKM," katanya.

Dibandingkan rencana pembangunan TMF di Banyurejo, Dona menilai jika pembangunan TMF di Bokoharjo jauh lebih siap. Sebab lahan TMF di Bokoharjo sudah disiapkan minimal dua hektare sementara di Banyurejo titik lokasinya belum bisa ditentukan.

"Kami masih mencari lahan yang memadai, apakah TMF ini bisa dibangun di Banyurejo atau Tambakrejo. Soalnya lokasi exit tolnya berdekatan. Kalau di Bokoharjo sudah jelas. Kebutuhan lahan TMF ini minimal dua hektare dan bisa dikembangkan hingga delapan hektare," katanya.

Selain masalah lahan, lanjut Dona, tahapan rencana pembangunan TMF di Bokoharjo terus bergulir. Pada Oktober nanti, Pemkab rencananya akan melakukan FS (fisibility studies) TMF Bokoharjo dengan melibatkan semua pihak terkait, termasuk PT TWC Borobudur, Prambanan dan Bokoharjo.

"Dari studi ini nantinya akan diketahui apa saja kebutuhan dalam TMF termasuk biaya pembangunannya," kata Dona.

Asisten Sekda Bidang Pembangunan dan Ekonomi Kunto Riyadi mengatakan keberadaan rest area dalam tol tidak akan menguntungkan masyarakat. Jika itu terjadi, maka rest area yang disediakan hanya bisa dimanfaatkan oleh pemodal besar. "Sementara yang UMKM tidak akan kuat untuk bersaing. Makanya diputuskan untuk tidak ada rest area di tol," katanya.

Sebagai gantinya, para pengguna jalan tol yang akan beristirahat atau berbelanja nantinya bisa menggunakan jalur exit tol atau on off menuju wilayah Sleman ataupun Kota Jogja. "Dengan konsep seperti ini maka kebermanfaatan jalan tol bisa dirasakan oleh masyarakat. Pemberdayaan ekonomi akan jalan. Kalau ada rest area, pengguna jalan tol tidak akan keluar ke Jogja," katanya.