Maba Diingatkan Jangan Tinggalkan Jejak Digital Perundungan & Ujaran Kebencian

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Profesor Fathul Wahid melantik mahasiswa baru, Rabu (8/9/2021). - youtube.
09 September 2021 05:57 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Profesor Fathul Wahid mengingatkan kepada mahasiswa baru (Maba) di kampusnya agar tidak melakukan perundungan atau bullying. Fathul juga berpesan agar mahasiswa mencari banyak referensi melalui berbagai sumber, salah satunya dengan jalan-jalan. Hal itu disampaikan dalam Kuliah Perdana Mahasiswa Baru Universitas Islam Indonesia (D3 & S1) Tahun Akademik 2021/2022 secara daring, Rabu (8/9/2021).

Fathul menyampaikan pesan itu dalam rangkaian sambutan tentang masa depan mahasiswa ke depan harus meninggalkan jejak yang baik, termasuk jejak digital. Selain itu meminta maba tidak melakukan perundungan karena berdampak pada trauma para korbannya.

“Mulai hari ini, jadilah manusia baru yang lebih baik. Tinggalkan jejak, termasuk jejak digital, yang baik. Jika dulu, saudara [maba] menikmati merundung orang lain, mulai hari ini jadikan itu masa lalu. Rundungan saudara bisa jadi masih menyisakan trauma dan siksa bagi korban,” ucapnya.

Ia menambahkan, memberikan jejak digital yang baik sangat bermanfaat ke depannya. Jika saat memiliki masa lampu dengan jejak digital yang kurang baik, maka di kemudian hari ke depan bisa ditelusuri dan diungkap kembali oleh orang lain.

“Jika di masa lampau, Saudara menjadi penyebar berita bohong dan penyuka ungkapan kebencian, mulai hari ini, akhiri. Jika Saudara merasa perlu, hapus jejak suram tersebut ketika masih terlacak. Mengapa ini penting? Bisa jadi kawan atau bos masa depan saudara akan menelusur jejak digital masa lampau kalian,” ujar Fathul Wahid.

Ia menambahkan maba harus mulai mendesain masa depan mulai dari kemampuan untuk sekedar beritikad baik dan bermanfaat bagi sesama manusia. Masa depan tidak memberikan tempat untuk pihak yang tidak bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Karena saat ini yang paling dibutuhkan adalah orang dengan karakter pembelajar cepat, mampu menghubungkan antartitik hingga antarkonsep.

“Untuk memperkaya referensi desain, perbanyaklah membaca, diskusi, dan jalan-jalan. Di masa pandemi seperti ini, di dalamnya, termasuk jalan-jalan virtual,” katanya.

Direktur Layanan Akademik UII Tatang Shabur Julianto menyatakan UII menerima 4.950 maba program Diploma (D3) dan Sarjana (S1) dari 21.207 total pendaftar. Mereka telah dinyatakan lulus dari beragam pola seleksi yang ditawarkan. Di tahun ini, sebaran mahasiswa berasal dari 34 provinsi di Indonesia dan 14 negara lain. Sebanyak 50 mahasiswa asing yang diterima di antaranya berasal dari Jerman, Pakistan, Uganda, Yaman, Afganistan, Moroko, Palestina, Thailand, Sudan dan Algeria.

“Aktivitas maba diawali dengan kegiatan kuliah perdana secara daring luring terbatas. Untuk luring hanya dihadiri oleh pimpinan UII di tingkat universitas dan fakultas, serta dua orang perwakilan mahasiswa baru didampingi orang tua. Sementara mahasiswa baru lainnya menyimak secara daring di kanal Zoom dan channel YouTube Universitas Islam Indonesia,” ujarnya.