15 Pengelola WBCB di Jogja Dapat Penghargaan Belasan Juta Rupiah

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja, Aman Yuriadijaya (kiri), saat memberikan apresiasi pada pengelola, pemilik, atau penanggung jawab WBCB di The Phonix Hotel, Selasa (28/9 - 2021).
28 September 2021 17:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dinas Kebudayaan Kota Jogja memberikan penghargaan kepada pemilik, pengelola, atau pananggung jawab bangunan warisan budaya dan cagar budaya (WBCB). Penghargaan berupa uang masing-masing Rp10 juta tersebut sebagai bentuk apresiasi pada pengelola yang sudah merawat dan melestarikan WBCB sehingga dapat dipertahankan keaslian bangunannya.

Ada 15 bangunan WBCB yang mendapat apresiasi, yakni Masjid Syuhada Kotabaru; eks Asrama Margoyuwono di Jalan Langenastran, Panembahan, Kraton; Rumah Tinggal di Jalan Tirtodipuran; Pendopo Banaran SMP Muhammadiyah 4 Jogja; Rumah Tinggal Keluarga Haji Jawas Bilal di Jalan Ngasem, Jogja.

Selain itu ada Rumah Jawa Kotagede di Alun-alun Kotagede yang dimiliki Bapak Mulyoharjono; Rumah Jawa Ndalem Sopingen di Trunojayan, Prenggan Kotagede yang dimiliki Bapak Sudjadi Pranoto; Rumah Jawa Kotagede di Trunojayan, Prenggan, Kotagede yang dimiliki Keluarga Bapak H.Asruri; dan Rumah Jawa Kotagede di Jalan Selokraman, Purbayan, Kotaged, yang dimiliki Hajah Umanah Hadjid Muthohar.

Kepala Dinas Kebudayaan Jogja, Yeti Martanti, mengatakan Apresiasi Kelestarian dan Keterawatan Warisan Budaya dan Cagar Budaya di Jogja merupakan salah satu wujud apresiasi dan perhatian Pemkot Jogja terhadap pemilik, pengelola, atau penanggung jawab WBCB sebagai masyarakat yang penuh kesadaran dan keikhlasan turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian warisan budaya atau cagar budaya yang dimiliki atau dikelola sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Dengan memberikan apresiasi kepada warga yang berjasa terhadap kelestarian bangunan warisan budaya atau cagar budaya, kami berharap semakin banyak pemilik, pengelola, atau penanggung jawab WBCB yang berkomitmen untuk mempertahankan keberadaan bangunan heritage sehingga nuansa budaya Jogja sangat terasa. Dengan demikian keistimewaan DIY secara nyata dapat dilihat,” kata Yeti, dalam acara Apresiasi Kelestarian dan Keterawatan Warisan Budaya dan Cagar Budaya di Jogja, di The Phoenix Hotel, Selasa (28/9/2021).

Yeti berharap bangunan cagar budaya yang kebetulan banyak yang rumah pribadi yang nantinya ditetapkan sebagai warisan budaya ataupun sudah ditetapkan sebagai cagar budaya agar tetap terawat dengan baik. Dia mengakui apresiasi tersebut mungkin masih jauh dari harapan namun setidaknya dapat memotivasi pengelola untuk melestarikan dan merawat dengan baik bangunan cagar budaya.

Revianto Budi Santosa, salah satu juri, mengatakan dalam penilaian WBCB yang layak mendapat penghargaan tersebut mengatakan total ada sekitar 200 WBCB yang dinilai, namun ditetapkan sebanyak 15 yang layak mendapat penghargaan. Terdapat beberapa aspek penilaian WBCB sehingga layak diapreasiasi.

“Pertama, kelestariannya seberapa utuh bangunan tersebut.  Kedua, seberapa terawat bangunan tersebut. Ketiga, adalah kebersihan kesehatan yang menjadi pertimbangan kami dan satu lagi memang bangunan itu belum dapat penghargaan sama sekali,” kata Revianto.

Revianto mengatakan sebenarnya penilaian tersebut hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, namun kali ini ada penilaian tambahan yakni CHSE, yang berarti kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan.

Menurut Revianto, 200 WBCB yang dinilai sebagian besar sudah ditetapkan sebagai WBCB melalui SK Walikota namun ada yang sudah mendapat penghargaan sebelumnya sehingga tidak masuk kriteria penghargaan tahun ini. Atau mungkin karena aspek CHSE-nya yang belum memenuhi. Dia berharap penghargaan tersebut dapat memotivasi bagi pemilik bangunan lainnya yang bernilai WBCB agar tetap merawat dan melestarikannya.