Sinyal Tidak Stabil, Lokasi Pindai Kode QR Dipindah

Ilustrasi QR code. - Ist/Liputan6
01 Oktober 2021 04:37 WIB Catur Dwi Janati Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Ketisakstabilan sinyal telekomunikasi masih menjadi kendala dalam uji coba pembukaan objek wisata. Sejumlah destinasi wisata terpaksa memindah papan Kode QR ke titik yang memiliki sinyal lebih stabil demi kelancaran pengunjung.

Hasil evaluasi Kepala Seksi Obyek Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul, Alexander Joko Wintolo menjelaskan sinyal masih jadi kendala utama di sejumlah destinasi yang menjalani uji coba. "Sinyal masih belum bagus, masih seperti yang dulu itu belum bagus," tuturnya Kamis (30/9/2021).

"Kendala sinyal hampir sama terjadi dari Seribu Batu, Pinus Sari dan Pinus Pengger. Hampir sama kasusnya seperti itu," tambahnya.

Untuk mendukung kelancaran aktivitas pariwisata, perangkat penguat sinyal sangat dibutuhkan di sejumlah destinasi yang jaringannya tidak stabil. Sayangnya menurut penuturan Joko, pemasangan perangkat sinyal baru dapat diajukan pada triwulan keempat dalam Anggaran Belanja Tambahan (ABT).

"Yang kami dengar, karena untuk pengusulan anggaran nanti kan di triwulan keempat dengan dana ABT. Itu kemungkinan baru bisa diajukan sekitar bulan November untuk penambahan sarana penguat sinyal di sana, di tiga lokasi itu," tandasnya.

Baca juga: Pemda Izinkan Konser Musik di DIY, Cermati Syaratnya

Praktis solusi paling sederhana yang bisa dilakukan destinasi wisata dituturkan Joko ialah memindah papan Kode QR ke lokasi dengan jaringan yang lebih stabil di sekitar lokasi. "Barcode-nya itu memindainya ya di tempat yang bagus sinyalnya. Misalnya kalau depan loket itu tidak bagus, mungkin di sekitar situ ada yang bagus ya di situ bisa," ungkapnya.

"Mungkin di tempat parkir atau di mana, dipindah sementara untuk memindai barcode-nya. Di Seribu Batu seperti itu, di parkirannya. Lalu di Pinus Sari kemarin itu mas Hendri [Pengelola Pinus Sari] juga sudah mencoba di parkiran itu malah lebih bagus di sana. Agak geser sedikit jadi tidak pas di depan loket, tapi digeser sedikit," kata dia.

Selain sinyal, hasil evaluasi Joko juga menemukan saat aplikasi PeduliLindungi digunakan pengunjung secara bersamaan, aplikasi menjadi lambat. "Aplikasi PeduliLindunginya itu kalau dipakai banyak wisatawan misalnya sekitar 400 itu nanti jadi lemot," ujarnya.

Di sisi lain, Joko juga mendapati banyak wisatawan yang masih membawa anak-anak di bawah usia 12 tahun. Beberapa pengunjung belum vaksin juga banyak didapati hendak berkunjung ke destinasi wisata.