Lumbung Mataraman Bendung Disiapkan Pasok Kebutuhan MBG
Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Bendung, Semin berencana memeperluas kawasan Lumbung Mataraman dari semula 1,2 hektare menjadi 2,2 hektare untuk menyasar MBG.
Kondisi Pantai Baron, Gunungkidul, Sabtu (11/8/2018)./Istimewa
Harianjogja.com, WONOSARI – Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukmono memastikan hingga sekarang belum ada destinasi wisata yang diperbolehkan buka. Oleh karenanya, selama penutupan tidak bisa bisa memaparkan jumlah kedatangan wisatawan.
“Memang ada yang masuk tapi dengan jalan menerobos. Kami jelas menyayangkan hal ini dan meminta kesadaran masyarakat untuk bersabar,” kata Hary, Senin (4/10).
Menurut dia, puluhan destinasi di Gunungkidul sudah mengurus sertifikasi CHSE dan QR code aplikasi Peduli Lindungi sebagai syarat kembali membuka destinasi wisata. Meski demikan, hingga saat ini masih dalam proses dan belum ada keputusan terkait destinasi wisata yang segera dibuka.
“Harapan kami agar ada kelonggaran pariwisata di Gunungkidul bisa dibuka. Jika ini bisa dibuka, maka upaya pengawasan terus ditingkatkan guna memastikan protokol kesehatan benar-benar dijalankan di area wisata,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Bendung, Semin berencana memeperluas kawasan Lumbung Mataraman dari semula 1,2 hektare menjadi 2,2 hektare untuk menyasar MBG.
Keluarga korban Kapal Virgo Transport 8 menanti kabar di Surabaya. Ada yang masih mencari anggota keluarga, ada pula yang mendapat kabar selamat.
3D printing mulai meluas di Jogja, digunakan keluarga, UMKM, mahasiswa hingga pendidikan untuk kreativitas, produksi dan pengembangan produk.
Riyanda selamat dari tenggelamnya Virgo Transport 8 setelah berpegangan tripleks selama terombang-ambing di Laut Jawa.
Kawasan industri Gunungkidul diperluas menjadi sekitar 1.500 hektare untuk menarik investasi dan perusahaan besar serta menyerap tenaga kerja.
Kontes nasional kambing Kaligesing di Kulon Progo diikuti 300 peserta. Ternak unggul disebut bernilai hingga ratusan juta rupiah.