Pulang dari PON Papua, Atlet Bantul Terkena Malaria

Ilustrasi - Pixabay
13 Oktober 2021 20:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan salah satu atlet PON XX Papua asal DIY terkena penyakit malaria. Atlet tersebut diketahui terkena malaria setelah melalui hasil rapid diagnostic test (RDT) sepulang dari Papua.

“Kemarin ada satu yang positif malaria, dari Bantul,” kata Baskara Aji, di Kompleks Kepatihan, Rabu (13/10/2021). Namun atlet tersebut sudah langsung mendapat penanganan medis dan kondisinya baik-baik saja dan sudah dipulangkan ke rumahnya karena negatif Covid-19.

BACA JUGA: Musim Hujan Tiba Lebih Awal di DIY, Ini Perkiraan BMKG

Baskara Aji menyatakan sejak beberapa tahun lalu sudah tidak ada lagi malaria. Salah satu kabupaten yang masih endemi malaria adalah Kulonprogo. Berbagai upaya terus dilakukan untuk memberantas nyamuk malaria melalui penyemprotan dan sebagainya.

Namun persoalannya Kulonprogo masih berbatasan dengan Purworejo, Jawa Tengah.

Pemda DIY sudah menyiapkan dua selter untuk menampung para atlet dan ofisial sebelum pulang ke rumah masing-masing. Kedua selter tersebut adalah Balai Latihan Kementerian Sosial di Jogja, dan Perumahan ASN Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSO) Sleman.

Baskara Aji mengatakan semua atlet dan ofisial wajib masuk ke selter untuk menjalani pemeriksaan Covid-19 dan malaria. Jika ada yang positif Covid-19, mereka akan dirujuk ke rumah sakit atau isolasi di selter, namun jika hasilnya negatif, mereka hanya perlu karantina beberapa hari kemudian pulang ke rumahnya masing-masing.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Berty Murtiningsih mengatakan secara komulatif ada tujuh kasus malaria di DIY, “Semuanya adalah kasus impor, artinya orang yang datang ke DIY dari daerah malaria,” kata Berty.

Berty mengimbau masyarakat untuk tidak berkunjung ke daerah yang masih tinggi malarianya  atau bila datang dari daerah malaria, utamanya di kawasan Indonesia Timur, segera melaporkan diri ke puskesmas. “Istilahnya adalah survailans migrasi,” kata Berty.